Friday, 18 September 2015
BEDHAHIPUN LOKAPALA
Saturday, 6 December 2014
Kematian Kresna
Santiparwa
Usai perang Bharatayuda, ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat para kurawa yang telah tewas, semua anak menantu Gandari (Ibu para Kurawa) telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkara, ‘ Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krisna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.
Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.
Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’
Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krisna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya
Mosalaparwa
Mosalaparwa atau Mausalaparwa adalah buku keenam belas dari seri kitab MahaBharata. Adapun ceritanya mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa.
Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.
Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)
Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.
Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".
Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eraka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.
Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri. Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Kresna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.

Sri Krisna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan yang di mana naga dan para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.
Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu Setelah itu Ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.
Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna kemudian duduk disebuah batu dibawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian dibawah kakinya berwarna kemerah-merahan.
Saat itu ada seorang Vyadha (pemburu) bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kerah-merahan, Ia pikir, ‘Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku’, Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan kemudian panah itu diberi racun. Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang Pemburu segera berlari ketempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Shri Krisna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu. Jara kemudian meminta ma'af atas kesalahannya itu. Sri Kresna tersenyum dan berkata,
‘Kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku’.
Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk Basudewa (Sri Krisna). Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.
Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan Orang-orang tua, anak-anak, janda-janda yang ditinggalkan mati oleh para suaminya di dalam peperangan, Arjuna bersama para ksatria yang tersisa kemudian membawa pergi para Brahmana, Ksatria, waisya, sudra, wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra.
Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan beberapa pesan kepada Arjuna, Basudewa mangkat.
Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.
Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.
Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.
Yang menarik dari catatan kematian Krisna adalah:
- Bangsa Yadawa terkenal tidak terkalahkan sehingga menjadi sombong, arogan kasar dan gemar mabuk2an di menjelang akhir kehidupan sehingga cukup aneh bila ada pemburu yang tidak terusik dan santai di sekitar tempat pertemuan bangsa Yadawa tersebut
- Disekitar hutan tersebut, saat itu justru sendang terjadi perang dashyat yang berujung musnahnya bangsa Yadawa, maka bagaimana mungkin ada seorang Pemburu yang begitu santainya berburu?
- Sebagai seorang pemburu rusa, tentunya ia mengerti prilaku rusa yang sangat waspada dan gampang terkejut, jadi bagaimana mungkin ada rusa disekitar perang besar bangsa Yadawa tersebut.
- Satu kebetulan menarik lainnya adalah arti nama Jara adalah Usia Tua, Sehingga ada pendapat bahwa kematian Krisna di panah Pemburu bernama Jara, merupakan sebuah metaphora? yaitu wafat dikarenakan usia tua [125 tahun]
- Kematian Krisna adalah benar karena usia tua, sehingga percakapan antara Krishna dan Jara merupakan tambahan dan bukan yang sebenarnya, maka pesan terakhir dari Krisna hanyalah kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk bangsa Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
- Apabila Pemburu itu ada maka pesan terakhir krisna ada dua yaitu menenangkan Jara dari perasaan bersalah dan kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa2 penduduk Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka. (Sumber: https://www.facebook.com/note.php?note_id=448808221831638 facebook cerita wayang).
Saturday, 21 July 2012
Prabu Kresnadwipayana (Abiyasa)
*Dewi Ambika, peputra Raden Drestharastra, kang cacat wuta wiwit lair. Ya Raden Drestharastra iki sing garwane aran Dewi Gendari duwe anak cacahe satus kang sinebut Sata Kurawa.
Thursday, 19 July 2012
Rama Wiwaha
Kacariyos, Prabu Rama punika sejatosipun dewa. Asmanipun Wisnu. Panjenenganipun manjanma dados manungsa tumurun saking kahyangan dhateng donya. Sadaya kalawau awit panyuwunipun para dewa sanesipun, amargi para dewa boten tentrem dipunganggu dening Nata Alengka inggih punika Dasamuka utawi Rahwana.
(saking Marsudi Basa lan Sastra Jawa;gambar saking google.com)
Saturday, 14 July 2012
Lampahan-lampahan ing Pustaka Raja Purwa

Jilid 1-37
- Manikmaya = nyariyosaken lairipun Manik lan Maya. Manik punika Bathara Guru, Maya punika Ismaya (Semar). Bathara Guru nguwaosi Kahyangan. Semar tumurun dhateng Marcapada. Nyariyosaken lairipun para dewa tuwin widadari.
- Ngruna-ngruni = nyariyosaken Prabu Sengkan turunan saking nagari Parangsari arsa ngayunaken dewi Angruna lan Angruni.
- Watugunung = nyariyosaken Raden Buduk (Radite) nata Gilingwesi lajeng krama kaliyan ibunipun piyambak sesilih dewi Shinta patutan putra cacah 28. Wusana sami musna dados naminipun wuku 30.
- Mumpuni = nyariyosaken dewi Mumpuni krama kaliyan Bathara Yamadipati nanging lajeng rinebat dening Bathara Naga Tamala. Lajeng ugi rebatan kaliyan Srigati Putranipun Bathara Wisnu ing Mendhangkamulan. Nanging wekasan dewi Mumpuni krama kaliyan Naga Tatmala.
- Pakukuhan = nyariyosaken Prabu Pakukuhan/Prabu Kanu/Prabu Sri Mahapunggung ing Purwacarita perang lumawan Prabu Dewaisa nata Gilingwesi. (wonten candhakipun)
Thursday, 12 July 2012
Crita Wayang
Crita wayang ana sing isih baku kasebut ana ing babon buku-buku sing wis ana, kalamangsane diowahi saprayogane. Ana uga crita wayang sing aran carangan. Carangan iku ing babon ora ana ganep, kaya unine ing carangan. Ning uga njupuk nyrempet sawenehing lelakon ing babon kono. Upamane crita "Bale sigala-gala", iku carangan, njupuk babon ing Serat Wiratha Parwa.
- Mahabharata
- Ramayana
- Baratayudha
- Serat Rama
- Pustaka Raja
Friday, 18 November 2011
Wednesday, 4 August 2010
Wayang Kulit: Beda Wayang Kulit Jogja - Solo
Thursday, 24 December 2009
Kumbakarna Gugur
Kumbakarna ditimbali dening Prabu Dasamuka kinen madeg senapati ngrabaseng prajurit Pancawati, andhahane Prabu Rama. Rangu-rangu atine awit dheweke ngerti jalarane Prabu Ramawijaya ngebroi Ngalengka. Ora liya amarga srakahe Prabu Dasamukangrebut garwane Prabu Rama, ya Dewi Sinta. Tumindake pun kakang pancen nalisir saka bebener. Ananging menawa ngelingi bumi Ngalengka, bumi wutah getihe sing bosah-baseh uga para kawula sing nandhang sengsara dadi kurban paprangan, tuwuh tekad sing mkantar-kantar jroning wardaya kanggo bela negarane.
Dewi Kiswani, garwane Kumbakarna ora kuwawa ngumpet tumetesing waspa nalika dipamiti lan diutus nyepakake ageman warna seta.
“kakngmas, kula sampun kecalan anak-anak kula Kumbawaswani tuwin Kumba-Kumba. Kula boten purun kecalan paduka, Kangmas!” ature kebak sungkawa marang Raden Kumbakarna.
“Yayi, pati urip iku ing astane Kang Akarya Jagad, yen pun kakang tiwas ing rananggana. Ateges iku pepesthen kang ora bisa diselaki. Ananging yen kakang selak saka jejibahan iki marang bumi Ngalengka sing wis menehi panguripan? Mula sanadyan nganti oncating nyawa tetep kudu dakbelani!”
Sawise krungu ngendikane garwane iku Dewi Kiswani tinarbuka atine lan ngutabake kanthi lega lila.
Bala wanara prajurite Prabu Rama kuwalahan nampani tandange Kumbakarna kang ngedab-edabi. Sanadyang mangkono ora padha gisrig, saya akeh sing ngrubut. Ana sing nyathek, nyokot mlah uga mancat ngrangsang sirah. Kurban saya akeh, nganti keprungu bendhe tinabuh aweh tetenger supaya padha mundur. Sawijining satriya marani Raden Kumbakarna.
“Yayi Wibisana!” pambengoke Kumbakarna bareng ngerti satriya iku jebul rayine.
“Kakang” kakang adhi iku rerangkulan kebak rasa sedhih. Wibisana tinudhung dening Dasamuka sesawise babaregan karo Kumbakarna elik-elik supaya ora meruhi tumindak angkara murkane kaknge sing saya ngambra-ambra. Ora dinyana kepethuk ing madyaning palagan.
“Sangertos kula kakang Kumbakarna tansah mbelani dhareng kautaman. Kenging menapa sakpunika kakang madeg dados senapati mbelani Prabu Dasamuka ingkang ateges mbelani kamurkan?” ature Wibisana.
“Dadi kaya ngono pangiramu marang pun kakang? Aku maju ing palagan iki amarga nglungguhi darmaning satriya kang kudu bela negara. Perkara tumindake Prabu Dasamuka iku dudu tanggung jawabku. Nanging rusake negara ngalengka, aku ora bisa nrimakake!” Wibisana ndheprok nyuwun pangapura awit wis duwe pandakwa ala.
“Wis.. wis dhi ora dadi apa. Lha kowe dhewe kok ana kene larahe kepriye?” pitakone kumbakarna. Wibisana nyritakake yen sawise ditudhung Dasamuka banjur nyuwita marang Prabu Rama.
“Boten ateges kula cidra dhateng nagari Ngalengka, kakang. Nanging kula kedah netepi darmaning satriya ingkang tansah mbela dhateng sinten ingkang leres!” ature Wibisana. Kakarone krasa nggrentes atine kudu adhep-adhepan minangka mungsuh.
“Jagad Dewa Bathara wis dadi garising Jawata kita kudu kaya ngene. Kowe ora luput, Dhi! Antepana dharmamu kaya dene aku netepi dharmaku! Aturana supaya ngayunake yudaku, kareben perkerene enggal rampung!” wibisana nyawang kakange kanthi trenyuh, atur sembah nuli mungkur.
Kumbakarna klakon adhep-adhepan karo Prabu Rama. Durung kober senapati Ngalengka iku ngrangsek, kedhisiksan panahe Rama wola-wali mutung tangane banjur siskile. Saengga kari sirah lan gembung. Ewa semana ora luntur tekade Kumbakarna gawe pepati seakeh-akehe. Dumadakan sanjatane Prabu Rama panah Gunawijaya, ngrampungi krodhane Kumbakarna. Kumbakarna gugur.
(Panjebar Semangat 16/2005)
-Lampiran 2: Contoh Teks bacaan nonsastra dengan tema budaya dengan judul “Gedhang Raja lan Adat-Istidat”.
Gedhang Raja lan Adat Istiadat
Gedhang raja (Musa Paradisiaca) wis dikenal rikala jaman mbah buyut dhisik. Gedhang raja sawangane pancen alus, lumer sarta nengsemake. Kejaba wujud lan wernane nyenengake, rasane biyuh-biyuh seger, legi, arum. Gedhang jarwa dhosoke... digeget bubar madhang. Pranyata wujud lan ulese pancen ndemenake, saengga digandrungi masyarakat sadonya. Kejaba aroma lan rasane gawe kemecer ngiler, uga gedhang raja entuk sebutan ‘Paradise Banan’ (buah surga) utawa buah nirwana.
Wektu iki gedhang raja kena diarani produk ekspor kang paling istimewa, kabukten sing padha pesen saka njaban rrangkah kayata Jepang, China, Korea lumebere tumeka Bawono Eropa lan Australia. Mula akeh warga masyarakat ing Indonesia padha ngulir budi anggone ngrembakaake gedhang raja mau. Kejaba gedhang raja regane larang, pancen kanggo kebutuhan adat.
Uwal saka babagan gedhang komersial, wangune ing wewengkon Kraton Sumenep Madura, gedhang raja minangka simbul adat perkawinan kraton. Pancen adat –stiadat pernikahan jroning kraton, tansah diuri-uri aja nganti kasilep majune jaman. Senajan saiki wis mlebu era gobalisasi, nanging ing laladan kraton isih nggeget kenceng adat pernikahan mawa gedhang raja.
Sejatine yen kita tintingi kanthi premati, gedhang raja uga dibutuhake dening kraton Mataram, saengga kraton Surakarta lan Yogyakarta uga ora ninggalake kebutuhan mau. Kejaba kaggo pajangan, pasang tarub, jejeran, sajen, kendurenan lan akeh maneh liyane, uga kanggo hiasan ing rumah makan ing ngendi wae. Gedhang raja mujudake gedhang adat minangka warisan nenek moyang jaman dhisik.
(Panjebar Semangat 22/2009).















