Sugeng rawuh ing "Sinau Jawa". Blog menika minangka salah satunggalipun pambudidaya nguri-uri kabudayan Jawa, tilaranipun linuhung Jawa. Nyuwun Pangapunten awit kathah kekiranganipun. Matur nuwun.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Sikap hidup Orang Jawa. Show all posts
Showing posts with label Sikap hidup Orang Jawa. Show all posts

Friday, 11 October 2013

SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT

Rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwa Ting Diyu.

Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran “ sang angkara murka “ justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebut Serat Sastrajendra.


Ilmu untuk Meraih Sifat Luhur Manusia.

Salah satu ilmu rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia adalah Serat Sastrajendra. Secara lengkap disebut Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwatingdiyu. Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan. Pengertiannya bahwa Serat Sastrajendra adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.


Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).


Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.





Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

--> Selengkapnya silakan dibaca di sini 
(Artikel ini bersumber dari tulisan Alang-Alang Kumitir (klik))
 Sumber gambar : klik
Share:

Wednesday, 4 August 2010

Sikap Hidup Orang Jawa

SIKAP HIDUP ORANG JAWA


Masyarakat Jawa memiliki tradisi dan budaya, tetapi tidak semuanya baik, sikap hidup orang Jawa juga dapat dilihat dari batinnya, antara lain :

Rila, yaitu keikhlasan hati, sewaktu menyerahkan segal milik, kekuasaan, dan seluruh hasil karyanya.

Narimo, berarti puas, berkaitan dengan ketentraman hati yang berarti tidak menginginkan milik orang lain dan iri hati terhadap kebahagiaan orang lain melainkan bersyukur terhadap Tuhan.

Temen, yaitu menepati janji atau ucapannya baik yang dilakukan secara lisan, tulisan, maupun di dalam hati.

Sabar, yaitu kuat terhadap segala cobaan dan tidak putus asa yang dikarenakan kuat imannya, luas pengetahuannya dan wawasannya.

Budi luhur, yaitu apabila manusia selalu menjalankan segala tabiat dan sifatnya seperti Tuhan Yang Maha Mulia seperti kasih sayang terhadap sesama, suci, adil, dan tidak membedakan.
Masyarakat atau orang Jawa juga memiliki sikap hidup feodalistik.
Sikap tersebut tidak lain adalah mental attitude, yakni sikap mental terhadap sesama dengan mengadakan sikap khusus karena adanya pembedaan dalam usia dan kedudukan. Sikap ini akan menumbuhkan sikap struktur masyarakat yang berlapis-lapis.

Termasuk juga sikap hidup orang jawa yang berhubungan dengan keagamaan yang berbaur dengan mistikisme jawa (gugon tuhon). Sikap ini menghendaki agar hidup berupaya menjadi manusia utama.

Untuk ke arah ini mereka harus bisa bersikap ajer-ajer (hancur luluh) tanpa memandang bulu, siapa orangnya harus bisa bergaul dengan siapapun. Maka, ia tidak menyukai sikap hidup yang ngedir-ngedirake (membangga-banggakan keturunan dan keluarganya).

Berkaitan dengan Tuhan , masyarakat Jawa selalu bersikap menep, tenang mengendap sehingga tidak diombang-ambingkan oleh nafsu yang hanya membuat orang gelisah . mereka lebih bersikap narimo ing pandum (menerima dengan sumeleh terhadap pemberian Tuhan).
Sikap ini tidak digolongkan dapat sikap fatalistik.

Artinya yaitu urip manungsa pinasthi ing pangeran, hidup telah ditakdirkan, tidak berarti hanya diam, berarti sama saja dengan mati. Adapun watak prima yang sebenarnya tetap disertai usaha terlebih dahulu, baru pasrah dan sumarah.

Pasrah sendiri yaitu kondisi tunduk dan takhluk pada takdir, ibarat tangan tengkurup merunduk.

Sedangkan sumarah yaitu bercerah diri dengan cara mengulur tangan.
Share:

Main Menu