Showing posts with label Wayang. Show all posts
Showing posts with label Wayang. Show all posts
Friday, 18 September 2015
BEDHAHIPUN LOKAPALA
BEDHAHIPUN LOKAPALA
Ringkesing cariyos bilih ing negari Lokapala jumeneng
satunggaling narendra ingkang kondhang sekti mandraguna, inggih punika ingkang
ajejuluk Prabu Danapati. Sang Prabu
kagungan aji-aji Pancasona. Kasektenipun Sang Prabu sumebar ngantos negari
Alengka. Mireng bilih Prabu Danapati kagungan aji Pancasona ndadosaken
runtiking saha muringipun Dasamuka, amargi kaanggep madhani utawi ngembari
katiyasipun Prabu Dasamuka. Lajeng Prabu Rahwana ngetingalaken watak angkara murkanipun,
jail methakil, drengki srei, dahwen ati open lan legan golek dhadhakan. Prabu
Dasamuka lajeng sesumbar “He … manungsa, sapa wani-wani ngembari
kadigdayaningsun bakal ingsun tigas jangganira.”
Prabu
Dasamuka rumaos kabrangas atinipun lajeng kagungan sedya nglurug dhateng negari
Lokapala badhe dipundamel sekarang abang, kamangka Prabu Danapati tasih
kaprenah kadang wredhanipun. Sedyanipun Prabu Dasamuka badhe mbedhah negari
Lokapala boten dipunsarujuki dening sawetawis kadhang-kadhangipun. Nanging
Dasamuka boten nggega tetep mberung badhe mejahi Prabu Danapati kanthi sesanti
“Ing salumahing bumi iki, kang duweni hak ndarbeni aji Pancasona mung dheweke
dhewe, liyane ora kena lan ora oleh madhani.”
Kelampahan
Lokapala saestu ginebag ing ayuda dening Dasamuka sawadya balanipun raseksa.
Cacahing kurban tanpa wilangan. Saperangan ingkang dados kurban kawula alit
ingkang boten ngertos kenthang kimpule perkawis. Sejatosipun Dasamuka boten
gampil nelukaken Danapati, awit sami-sami digdayanipun. Perangipun saya dangu
saya riwut, saya rame lan sansaya tambah kurbanipun ing kawula alit. Pramila,
lajeng Bathara Guru utusan dhateng Bathara Narada supados misah anggenipun sami
bandayuda. Prabu Danapati lajeng karangkul dening Bathara Narada, lajeng dhawuh
“Wis wis wis, aja ko bacutake anggonmu padha bandayuda, mesakna kawulamu kang
padha dadi kurban pating balasah kaya babadan pacing, mangertia Dasamuka iku
dudu mungsuhmu.”
Danapati
lajeng kasengkakaken dados Dewa, lajeng kaajak sesarengan minggah dhateng
Kahyangan. Dasamuka bingah sanget,
rumaos menang, rumaos saged ngalahaken Danapati, marem atinipun boten wonten
malih tiyang ingkang ngembari kadigdayanipun.
Saturday, 6 December 2014
Kematian Kresna
Kisah kematian Kresna di gambarkan permulaannya di Santiparwa, bagian ke 12 dan Mosala parwa bagian 16 MahaBharata:
Santiparwa
Usai perang Bharatayuda, ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat para kurawa yang telah tewas, semua anak menantu Gandari (Ibu para Kurawa) telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkara, ‘ Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krisna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.
Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.
Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’
Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krisna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya
Mosalaparwa
Mosalaparwa atau Mausalaparwa adalah buku keenam belas dari seri kitab MahaBharata. Adapun ceritanya mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa.
Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.
Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)
Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.
Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".
Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eraka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.
Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri. Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Kresna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.

Sri Krisna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan yang di mana naga dan para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.
Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu Setelah itu Ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.
Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna kemudian duduk disebuah batu dibawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian dibawah kakinya berwarna kemerah-merahan.
Saat itu ada seorang Vyadha (pemburu) bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kerah-merahan, Ia pikir, ‘Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku’, Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan kemudian panah itu diberi racun. Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang Pemburu segera berlari ketempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Shri Krisna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu. Jara kemudian meminta ma'af atas kesalahannya itu. Sri Kresna tersenyum dan berkata,
‘Kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku’.
Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk Basudewa (Sri Krisna). Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.
Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan Orang-orang tua, anak-anak, janda-janda yang ditinggalkan mati oleh para suaminya di dalam peperangan, Arjuna bersama para ksatria yang tersisa kemudian membawa pergi para Brahmana, Ksatria, waisya, sudra, wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra.
Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan beberapa pesan kepada Arjuna, Basudewa mangkat.
Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.
Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.
Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.
Yang menarik dari catatan kematian Krisna adalah:
Santiparwa
Usai perang Bharatayuda, ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat para kurawa yang telah tewas, semua anak menantu Gandari (Ibu para Kurawa) telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkara, ‘ Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krisna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.
Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.
Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’
Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krisna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya
Mosalaparwa
Mosalaparwa atau Mausalaparwa adalah buku keenam belas dari seri kitab MahaBharata. Adapun ceritanya mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa.
Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.
Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)
Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.
Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".
Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eraka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.
Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri. Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Kresna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.

Sri Krisna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan yang di mana naga dan para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.
Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu Setelah itu Ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.
Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna kemudian duduk disebuah batu dibawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian dibawah kakinya berwarna kemerah-merahan.
Saat itu ada seorang Vyadha (pemburu) bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kerah-merahan, Ia pikir, ‘Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku’, Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan kemudian panah itu diberi racun. Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang Pemburu segera berlari ketempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Shri Krisna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu. Jara kemudian meminta ma'af atas kesalahannya itu. Sri Kresna tersenyum dan berkata,
‘Kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku’.
Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk Basudewa (Sri Krisna). Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.
Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan Orang-orang tua, anak-anak, janda-janda yang ditinggalkan mati oleh para suaminya di dalam peperangan, Arjuna bersama para ksatria yang tersisa kemudian membawa pergi para Brahmana, Ksatria, waisya, sudra, wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra.
Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan beberapa pesan kepada Arjuna, Basudewa mangkat.
Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.
Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.
Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.
Yang menarik dari catatan kematian Krisna adalah:
- Bangsa Yadawa terkenal tidak terkalahkan sehingga menjadi sombong, arogan kasar dan gemar mabuk2an di menjelang akhir kehidupan sehingga cukup aneh bila ada pemburu yang tidak terusik dan santai di sekitar tempat pertemuan bangsa Yadawa tersebut
- Disekitar hutan tersebut, saat itu justru sendang terjadi perang dashyat yang berujung musnahnya bangsa Yadawa, maka bagaimana mungkin ada seorang Pemburu yang begitu santainya berburu?
- Sebagai seorang pemburu rusa, tentunya ia mengerti prilaku rusa yang sangat waspada dan gampang terkejut, jadi bagaimana mungkin ada rusa disekitar perang besar bangsa Yadawa tersebut.
- Satu kebetulan menarik lainnya adalah arti nama Jara adalah Usia Tua, Sehingga ada pendapat bahwa kematian Krisna di panah Pemburu bernama Jara, merupakan sebuah metaphora? yaitu wafat dikarenakan usia tua [125 tahun]
- Kematian Krisna adalah benar karena usia tua, sehingga percakapan antara Krishna dan Jara merupakan tambahan dan bukan yang sebenarnya, maka pesan terakhir dari Krisna hanyalah kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk bangsa Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
- Apabila Pemburu itu ada maka pesan terakhir krisna ada dua yaitu menenangkan Jara dari perasaan bersalah dan kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa2 penduduk Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka. (Sumber: https://www.facebook.com/note.php?note_id=448808221831638 facebook cerita wayang).
Friday, 25 October 2013
Gagrak dan Pakem
Pagelaran wayang dan/atau karawitan, di masa sekarang dikenal sebagai suatu pagelaran yang dimainkan menurut suatu ‘gagrak’ (pola, gaya, mahzab, atau corak) dan ‘pakem’ tertentu. Seperti pada lukisan, dikenal ada lukisan gaya naturalis, gaya super-naturalis, gaya abstrak, gaya modern dan sebagainya. Seperti itu pula permainan alat-alat gamelan yang lazim disebut ‘karawitan’. Bahkan kita pada masa sekarang, juga mengenal sejumlah seniman karawitan dan/atau wayang yang menonjol dalam suatu gagrak tertentu.
Sangat mungkin, persoalan ‘gagrak’ tidak terlampau dominan di masa
lampau. Mungkin hal ini juga disebabkan sulitnya hubungan komunikasi
antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Namun, sejalan dengan
perkembangan budaya dan hubungan antar daerah (di masa lampau, biasanya
merupakan hubungan antar kerajaan atau perdagangan), berkembang pula
sifat-sifat kedaerahan yang diterapkan dalam permainan alat-alat gamelan
(karawitan) dan juga pada berbagai permainan wayang. Dengan demikian,
akhirnya kita mengenal adanya sejumlah bentuk ‘gagrak’ tertentu, sesuai
sifat khas kedaerahan tertentu.
Penerapan gagrak tertentu, tidak saja dilakukan terhadap permainan
alat-alat gamelan, tetapi juga terhadap garap, cara memainkan alat
gamelan, aransemen, komposisi, pagelaran wayang, bentuk-rupa wayang,
jenis wayang, cara berbicara (antawacana), cara menceritakan (janturan),
sulukan (nyanyian dhalang), cara nembang (menyanyikan), atau senggakan
(vokal pengisi). Bahkan, sampai ke persoalan pakaian adat atau pakaian
tradisional yang digunakan, juga bisa sangat berbeda. Semua ini,
merupakan kekayaan budaya Nusantara yang luar biasa dan tak ternilai
harganya. Perkembangan seperti ini, jelas merupakan suatu perkembangan
yang bernuansa positif dan patut dihargai, dan diapresiasi.
Pakem dipahami sebagai suatu ‘kesepatan bersama’ yang dirancang,
dibuat, disepakati, dan dipatuhi oleh sekelompok orang (seniman)
pendukungnya. Pakem, di masa lampau memang dikembangkan di pusat-pusat
kekuasaan, seperti keraton atau pusat-pusat pemerintahan (kerajaan).
Jadi bayangkanlah, pakem ini di masa sekarang kita kenal sebagai semacam
‘juklak’ (petunjuk pelaksanaan) atau ‘juknis’ (petunjuk teknis), yang
digunakan untuk melaksanakan suatu pagelaran karawitan dan/atau wayang.
Pakem, bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak, dogmatis, dan sama
sekali tidak bisa berubah. Meskipun demikian, dukungan yang sangat kuat
terhadap suatu pakem tertentu, nyatanya memang ada. Di masa lampau,
dominasi pusat-pusat kekuasaan atau pusat-pusat pemerintahan (kerajaan),
memang sangat nyata. Karenanya, di masa lalu terjadinya perubahan pakem
boleh dikatakan sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Namun,
sejalan dengan terjadinya perkembangan budaya dan pergeseran pusat-pusat
kekuasaan (pemerintahan), pakem bergeser dan menjadi sesuatu hal yang
tidak lagi terlalu dipatuhi sebagai sesuatu yang bersifat dogmatis dan
wajib diikuti.
Di sekitar tahun 1966, Ki Narto Sabdo, seorang dalang wayang kulit
purwa yang berasal dari Kota Semarang, mulai ‘melanggar pakem’ dengan
menerapkan dua gagrak yang berbeda, yaitu Surakarta dan Yogyakarta
(Mataraman) dalam setiap pagelaran wayang kulit purwa yang dimainkannya.
Bahkan, pada masa berikutnya, beliau juga menyisipkan gagrak Banyumasan
dan bahkan mengkombinasikannya dengan permainan gaya Sunda. Pada
awalnya, semua yang dilakukan Ki Narto Sabdo banyak ditentang orang,
terutama mereka yang menjadi pendukung fanatik gagrak-gagrak tersebut.
Ketidak-sukaan terhadap apa yang dilakukan Ki Narto Sabdo, bahkan sampai
pada tindakan pelarangan mementaskan pagelaran di suatu wilayah
tertentu.
Tetapi, fakta yang didapat ternyata berbeda. Kelompok-kelompok orang
yang menentang Ki Narto Sabdo, berhadapan dengan masyarakat luas yang
tidak mempersoalkan apa itu gagrak atau pakem tertentu. Bagi masyarakat
pecintanya, pagelaran wayang kulit purwa yang dilakukan Ki Narto Sabdo
bisa diterima khalayak penontonnya, serta ‘sangat memenuhi selera dan
keinginan’ mereka. Bahkan pada sekitar tahun 1971, hasil polling yang
dilaksanakan oleh RRI (Radio Republik Indonesia), menunjukkan bahwa Ki
Narto Sabdo merupakan dhalang paling populer di Indonesia (saat itu).
Sejak peristiwa ini, sedikit demi sedikit, pagelaran wayang kulit
purwa yang menerapkan beberapa gagrak sekaligus, mulai cair dan tidak
lagi dimusuhi atau dipertentangkan. Bahkan, pada masa sekarang, kita
bisa melihat permainan dua atau tiga gagrak yang digabungkan dalam satu
pagelaran wayang kulit purwa, sudah merupakan kelaziman yang tidak lagi
dipersoalkan.
Meskipun kondisi pada masa sekarang sudah sedemikian cair, tetapi
pagelaran wayang (yang manapun), sebenarnya tetap berkiblat pada suatu
gagrak dan/atau pakem tertentu. Tentu saja, seringkali dilengkapi dengan
perubahan, penyesuaian, dan penggabungan dengan gagrak lainnya.
Karenanya, pada masa sekarang kita sangatlah beruntung masih bisa
menonton pagelaran-pagelaran wayang sesuai dengan gagrak dan/atau pakem
tertentu.
Pagelaran gagrak Surakarta
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Surakarta (Solo), umumnya
sangat mengeksploitas permainan alat-alat gamelan yang eksotis, rumit,
dan anggun.
Pagelaran gagrak Yogyakarta
Di kalangan masyarakat awam, gagrak Yogyakarta lebih dikenal sebagai
gagrak Mataraman. Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Yogyakarta
(Mataraman), umumnya sangat mengekspolitas permainan alat-alat gamelan
yang bersifat ‘asli Mataram’, penuh kerakyatan, dan penuh kebebasan
berkespresi.
Pagelaran gagrak Banyumasan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Banyumasan, lebih dikenal
karena sangat dekat dengan gagrak Pesisiran. Umumnya menampilkan
pagelaran yang bersifat gembira, penuh kelucuan, kerakyatan, banyak
menerapkan ‘senggakan’, dan penuh sorak-sorai kegembiraan.
Pagelaran gagrak Semarangan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Semarangan, banyak
mengeksploitasi gendhing-gendhing berbasis nada pelog. Gagrak Semarangan
bisa dikatakan menerima dominasi yang kuat dari gagrak Surakarta.
Meskipun demikian, permainan karawitannya yang banyak mengeksploitasi
nada pelog, membuatnya sangat berbeda dan berkesan sangat gagah.
Pagelaran gagrak Pesisiran
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Pesisiran, merupakan
bentuk pagelaran yang paling banyak mengeksploitasi permainan
gendhing-gendhing yang berbasis nada ‘slendro barang miring’ (bernada
minor). Ini merupakan salah satu kekhasan yang umumnya tidak terdapat
pada gagrak lainnya. Karenanya, permainan wayang, karawitan, dan
vokalnya; cenderung menampilkan warna dan suasana yang sendu, romantis,
dan juga sedih.
Pagelaran gagrak Jawa Timuran
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Jawa Timuran, mempunyai
gaya yang sangat khas dan berbeda dengan gagrak-gagrak lain yang berasal
dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kesan kuat, merdeka, enerjik, dan
garang; sangatlah terlihat tidak hanya pada permainan alat-alat
gamelannya, tetapi juga pada bentuk-rupa wayangnya.
Pagelaran gagrak Bali
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali, bisa dikatakan
benar-benar bebda dengan yang ada di Pulau Jawa. Banyak orang yang tidak
tahu, bahwa gamelan Bali yang dipakai sebagai kelengkapan karawitan
wayang gagrak Bali, adalah gamelan berbasis tangga-nada slendro, dan
memakai ricikan gamelan berupa gender. Karenanya, pagelaran karawitan
dan/atau wayang gagrak Bali menjadi sangat eksotis dan sangat anggun.
Ini akan merupakan pagelaran yang amat sangat berbeda dengan pagelaran
tari Bali misalnya (yang sudah sangat terkenal).
Pagelaran gagrak Sunda
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Sunda, berkembang sangat
pesat sejak sekitar tahun 1970-an. Permainan karawitan gagrak Sunda,
mulai menerima banyak perubahan sejak masa itu sampai sekarang. Gaya
permainan wayang yang sangat mengeksploitasi tokoh-tokoh wayang
tertentu, merupakan salah satu kekhasan pagelaran wayang gagrak Sunda
masa sekarang.
Pagelaran gagrak Luar Jawa
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Luar Jawa, seringkali
sangat dipengaruhi kondisi geografis, bahasa, dan adat kebiasaan
setempat. Karenanya, pada masa sekarang kita bisa melihat gagrak Luar
Jawa ini berkembang di beberapa wilayah yang berbeda, dan menghasilkan
bentuk pagelaran karawitan dan/atau wayang yang berbeda-beda pula.
Misalnya, pagelaran wayang gaya Jambi, Palembang, Banjar-Masin, Lombok,
atau lainnya.
Pagelaran gagrak Cirebonan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan, bisa dikatakan
merupakan gabungan beberapa gagrak yang berbeda. Umumnya, merupakan
gabungan gagrak Sunda (yang sangat dominan), gagrak Banyumasan (Jawa),
dan beberapa di antaranya juga dengan gagrak Betawi. Pengaruh agama
Islam dan budaya Cina, terasa sangat lekat dengan berbagai pagelaran
karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan.
Pagelaran gagrak Betawi
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Betawi, secara umum sangat dipengaruhi oleh gagrak Sunda dan budaya Cina.
Bram Palgunadi
Monday, 7 October 2013
Sekilas tentang Lakon Wayang
Pengertian lakon
Pertunjukan wayang kulit purwa, lazim
disebut pakeliran. Jika orang melihat sebuah pertunjukan wayang,
sebenarnya yang dilihat adalah pertunjukan lakon. Oleh karena itu,
kedudukan lakon dalam pakeliran sangat penting sifatnya. Melalui garapan
lakon, terungkap nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memperkaya
pengalaman kejiwaan.
Dikalangan pedalangan pengertian
Lakon sangat tergantung dengan konteks pembicaraannya. Lakon dapat
diartikan alur cerita, atau judul cerita, atau dapat diartikan sebagai
tokoh utama dalam cerita (Kuwato dalam Murtiyoso. 2004).
Selain itu lakon merupakan salah satu
kosakata bahasa Jawa, yang berasal dari kata laku yang artinya
perjalanan atau cerita atau rentetan peristiwa (Murtiyoso. 2004). Jadi
lakon wayang adalah perjalanan cerita wayang atau rentetan peristiwa
wayang. Perjalanan cerita wayang ini berhubungan dengan tokoh-tokoh yang
ditampilkan sebagai pelaku dalam pertunjukan sebuah lakon. Kemudian di
dalam sebuah cerita wayang akan muncul permasalahan, konflik-konflik dan
penyelesaiannya ini terbentang dari awal sampai akhir pertunjukan
(jejer sampai dengan tancep kayon) dengan wujud kelompok unit-unit yang
lebih kecil yang disebut adegan. Unit adegan yang satu dengan adegan
yang lain, saling terkait, baik langsung maupun yang tidak langsung
membentuk satu sistem yang disebut lakon.
Judul lakon
Judul lakon adalah suatu nama untuk
menunjuk rentetan peristiwa tertentu. Fungsinya sebagai pembatas atau
pembeda antara satu kelompok peristiwa, dengan kelompok peristiwa yang
lain. Hal ini tampak jelas apabila judul lakon itu merupakan suatu
bagian dari cerita besar, misalnya, cerita perang Baratayudha. Peristiwa
kepergian Kresna ke Hastina sebagai duta dibatasi dalam judul Kresna
Duta, peristiwa tampilnya Bisma ke medan perang sampai gugur, dibatasi
dengan judul Bisma Gugur, begitu seterusnya.
Meskipun lakon yang dipentaskan
adalah lakon carangan (Lakon carangan, adalah merupakan lakon yang
digubah dari lakon pokok, yang kenudian dikembangkan sendiri. Bahkan
bisa diurai lagi, menjadi cerita-cerita yang lain lagi), tetapi lakon
itu tentu dikaitkan dengan suatu kehidupan tokoh wayang dalam episode
tertentu. Misalnya, lakon carangan ‘Parta Krama’ (Kisah Arjuna merebut
Sumbadra), dalam pakeliran tradisi gaya keraton Yogyakarta, dibuat
menjadi berseri, yakni Srikandi Maguru Manah, Abimanyu Lahir, Sumbadra
Larung. Sedangkan lakon carangan ‘Parta Krama’ diambil dari Kakawin
Sumbadra Wiwaha, yang merupakan bagian dari Adiparwa.
Pertumbuhan dan Perkembangan Lakon
Lakon wayang sudah diketahui sejak
tahun 907 seperti yang tersurat dalam prasasti Balitung (Zoetmulder.
1983). Dari isi prasasti Balitung dapat diketahui bahwa kedua epos besar
yang berasal dari India yaitu wiracarita Mahabarata dan Ramayana telah
dipertunjukkan pada masa itu.
Akan tetapi dalam perkembangan
selanjutnya di Indonesia, epos Mahabarata dan Ramayana ini oleh para
pujangga atau genius lokal telah dimodifikasi sedemikian rupa
(penambahan dan perubahan) dalam kurun waktu yang sangat panjang untuk
diselaraskan dengan situasi dan kondisi nilai budaya setempat. Oleh
karena itu terdapat banyak hal yang tidak kita dapatkan dalam epos
Mahabarata dan Ramayana yang “asli”, seperti misalnya tokoh Pancawala.
Tokoh Pancawala ini di Indonesia adalah hasil perkawinan antara Drupadi
dan Puntadewa, padahal dalam Mahabarata India kita ketahui Drupadi kawin
dengan ke lima Pandawa dan dari hasil perkawinan itu lahirlah seorang
anak laki-laki.
Tokoh punakawan yaitu, Semar, Gareng,
Petruk dan Bagong ternyata juga tidak didapatkan dalam epos India itu.
Demikian juga lakon-lakon carangan termasuk sinkretisme (percampuran
antara cerita Ramayana dan Mahabarata di dalam lakon pedalangan Jawa),
juga tidak diketahui dalam cerita Ramayana dan Mahabarata yang asli.
Banyak sumber lakon wayang purwa
menjelaskan (Murtiyoso. 2004), bahwa Prabu Dharmawangsa Teguh, seorang
raja yang bertahta di Jawa Timur (tahun 997-1007) menterjemahkan
beberapa bagian dari Ramayana dan Mahabarata yang berbahasa Sansekerta
ke dalam bahasa Jawa Kuna atau Kawi dalam bentuk prosa, diantaranya
adalah,
a. Utarakanda di antaranya berisi
cerita tentang leluhur Dasamuka, Dasamuka Lahir, Arjuna Sastrabahu, dan
cerita tentang Dewi Shinta.
b. Adiparwa di antaranya berisi
cerita Dewi Lara Amis, Bale Sigala-gala, Arimba Lena, Peksi Dewata, Kala
Rahu (Rambu Culung atau terjadinya gerhana matahari), dan cerita
lahir-lahiran termasuk perkawinan Arjuna dan Sumbadra.
c. Subhaparwa berisi cerita Pandawa Dadu
d. Wirathaparwa berisi cerita Jala Abilawa dan Wirarha Parwa
e. Udyagaparwa di antaranya berisi cerita Kresna Gugah
f. Bismaparwa berisi cerita Bisma Gugur dan lain-lain (Poerbatjaraka, 1952)
Raja-raja Jawa yang lain setelah
Prabu Dharmawangsa Teguh, setelah raja Kediri, Majapahit, Demak,
Kartasura, dan Surakarta, banyak menghasilkan karya-karya sastra,
diantaranya lakon-lakon wayang, seperti misalnya, lakon Kresna Kembang
di ambil dari Kitab Kresnayana; lakon Ciptoning dari Kitab Arjunawiwaha;
lakon Dasarata Lahir diambil dari Kitab Sumanasantaka; Betara Gana
Lahir diambil dari Smaradahana, dan lain sebagainya.
Judul-judul lakon yang bersumber dari
serat-serat seperti yang telah disebutkan, dan diantaranya masih
dipentaskan oleh para dalang sampai sekarang. Namun sampai kurun waktu
tertentu, wujud lakon di dalam pakeliran yang meliputi teknis pakeliran,
alur lakon, bangunan lakon maupun garap lakonnya, baru dapat memperoleh
gambaran, setelah munculnya pakem pedalangan-pedalangan di awal tahun
1930-an untuk panduan para siswa pedalangan, yang diprakarsa oleh
Keraton Surakarta, Yogyakarta dan Mangkunegaran. Wujud pakeliran pada
setiap generasi, sebelum dan sesudah adanya pakem, selalu mengalami
perubahan, baik bentuk maupun isinya.
Pada masa seputar kemerdekaan
penyelenggaraan pertunjukan wayang terkait erat dengan kegiatan ritual,
seperti suran, sedhekah bumi, sandranan dan semacamnya, maka lakon-lakon
wayang yang beredar waktu itu – kecuali lakon-lakon lama yang telah ada
– juga lakon-lakon ruwatan seperti Sudamala, Tudhungkala, Murwakala,
Babat Wanamarta, Udan Mintaya dan lain-lain. Selain itu pertunjukan
wayang juga digunakan untuk menyertai hajat yang berhubungan dengan daur
hidup manusia, seperti mitoni, kelahiran, tetakan atau supitan,
perkawinan, nyewu, dan sebagainya. Untuk hajat perkawinan lakon-lakon
yang ditampilkan, adalah lakon-lakon raben, diantaranya Parta Krama,
Wisanggeni Krama dan sejenisnya, juga untuk berbagai macam hajatan
keluarga seringkali dipentaskan lakon jenis wahyu. Lakon-lakon wahyu
ini, juga beredar di masyarakat pedalangan, misalnya, Makutharama, Purba
Kayun, Trimanggala, Cangkir Gadhing, dan lain-lain.
Kemudian pada perkembangannya muncul
lakon-lakon baru yang disebut lakon carangan, dan ketentuan-ketentuan
tersebut masih berlaku dan dimainkan oleh para dalang hingga saat ini.
Pada perkembangannya kemudian dari hasil wawancara diperoleh keterangan
bahwa hampir semua dalang mengaku, pernah menyusun, menggubah dan atau
mencipta lakon. Lahirnya lakon-lakon carangan ini merupakan ekspresi
seniman dalang yang terpacu oleh faktor internal dan eksternal untuk
memenuhi tuntutan jaman, karena lakon-lakon yang telah ada kemungkinan
tidak lagi dapat menampung permasalahan-permasalahan yang ada di dalam
masyarakatnya (Murtiyoso. 2006).
Penggolongan jenis lakon
Penggolongan jenis lakon wayang kulit
purwa, dapat digolongkan menurut jenisnya, misalnya jenis wahyu, raben,
lahir, mukswa dan lain-lain. Tujuan dari penggolongan jenis lakon yang
dimaksudkan, adalah untuk memahami karakteristik lakon, yang sebelumnya
(Murtiyoso. 2006) mengalami kesulitan dalam menggolongkan jenis lakon
tersebut. Karena beragamnya lakon-lakon wayang yang diantaranya
disebabkan adanya tumpang tindihnya alur, maka jenis lakon digolongkan
berdasarkan judul-judul lakon dan peristiwa terpenting yang terjadi
dalam suatu kelompok lakon. untuk mempermudah penggolongannya (Murtiyoso
dan Suratno. 1992)
Penggolongan berdasarkan judul lakon
dapat digolongkan menjadi jenis lahiran, raben, alap-alapan, gugur atau
lena, mbangun, jumenengan, wahyu, nama tokoh, banjaran dan duta.
Sedangkan penetapan jenis lakon berdasarkan peristiwa terpenting yang
terjadi dalam suatu kelompok lakon, antara lain jenis paekan, kraman,
asmara, wirid, ngenger, kilatbuwanan, perang ageng, dan boyong.
Selanjutnya secara singkat akan diuraikan masing-masing jenis lakon yang
digolongkan berdasarkan kedua criteria itu berikut ciri pokok dengan
contohnya (Mutiyoso, dkk. 2004)
Penggolongan Berdasarkan Judul Lakon (Mutiyoso, dkk. 2004)
1. Jenis lahiran: ciri pokok lakon
jenis lahiran adalah, bahwa dalam lakon ini terjadi kelakiran seorang
tokoh wayang. Contoh: Setyaki Lahir, Abimanyu Lahir, Wisanggeni Lahir
dan lain-lain.
2. Jenis raben: seperti halnya lakon
jenis lahiran, di dalam lakon jenis raben atau krama ini terjadi
perkawinan atau krama seorang tokoh wayang. Contoh: Parta Krama, Rabine
Gathotkaca, Palasara Krama, Irawan Rabi, dan sejenisnya.
3. Jenis alap-alapan: dalam jenis
alap-alapan ini, ceritanya terjadi perebutan putri raja diantara para
satria atau raja dari berbagai tempat, misalnya, alap-alapan Sukesi,
Alap-alapan Dursilawati, Alap-alapan Setyaboma, dan sejenisnya. Mirip
dengan lakon alap-alapan ini adalah lakon dengan judul sayembara,
misalnya, Sayembara Kasipura, Gandamana Sayembara, dan Sayembara
Mantili.
4. Jenis gugur atau lena: dalam lakon
jenis ini terdapat meninggalnya seorang tokoh, misalnya Abimanyu Gugur,
Gathotkaca Gugur, Salya Gugur, Dasamuka Lena, Kangsa Lena dan
lain-lain.
5. Jenis mbangun: ciri pokok lakon
jenis mbangun adalah adanya kegiatan pembangunan suatu tempat, misalnya
mBangun Taman Maerakaca, mBangun Candi Saptarengga, Semar mBangun
Gedhongkencana, Semar mBangun Klampis Ireng dan lain-lain.
6. Jenis jumenengan: di dalam lakon
jenis jumenengan, terjadi kegiatan atau peristiwa pengukuhan atau
penetapan seorang tokoh menjadi raja, misalnya Jumenengan Parikesit,
Jumenengan Puntadewa, Jumenengan Kakrasana dan sejenisnya.
7. Jenis wahyu: isi pokok lakon jenis
wahyu adalah peristiwa pemberian anugerah (wahyu) dari dewa kepada
tokoh wayang tertentu karena keberhasilan atau jasa tokoh tertentu ini
kepada dewa. Contoh: Wahyu Eka Bawana, Wahyu Trimanggala, Wahyu Payung
Tunggulnaga, dan sejenisnya.
8. Jenis nama tokoh: ciri lakon
wayang jenis nama tokoh yang dimaksudkan di sini adalah pertunjukan
lakon wayang yang diberi judul dengan hanya menyebut nama tokoh wayang,
dan nama tokoh ini, biasanya nama tokoh utama dalam peristiwa lakon.
Misalnya: Begawan Kilatbuwana, Begawan Lomana, Mayangkara, Begawan
Ciptoning, Watugunung, Begawan Dwihastha dan sejenisnya.
9. Jenis banjaran: adalah
penggabungan beberapa lakon yang menceritakan seorang tokoh dari lahir
sampai mati dalam satu kesatuan pentas. Contoh: Banjaran Bima, Banjaran
Karna, Banjaran Gatutkaca, dan sejenisnya.
10. Jenis duta: ciri lakon jenis duta
adalah adanya seorang tokoh wayang yang mendapat tugas menjadi duta
dari seorang raja agar dapat menyelesaikan suatu masalah. Contoh: Anoman
Dhuta, Kresna Dhuta, Drupada Dhuta, dan sejenisnya.
Penggolongan Jenis Lakon berdasarkan Peristiwa Penting (Mutiyoso, dkk. 2004)
1. Jenis paekan: ciri lakon jenis
paekan adalah adanya rencana secara licik seseorang atau kelompok tokoh
wayang untuk mencelakakan tokoh wayang yang lain. Misalnya: Gandamana
Luweng, Gatutkaca Sungging, Kresna Cupu, Sinta Ilang, dan sejenisnya.
2. Jenis kraman: ciri lakon jenis
kraman adalah adanya peristiwa pemberontakan atau makar, baik secara
terang-terangan maupun terselubung. Misalnya: Brajadhenta mBalela,
Kangsa Adu Jago, dan Jagal Abilawa.
3. Jenis asmara: ciri lakon jenis
asmara adalah adanya kisah pokok tentang seorang tokoh yang jatuh cinta
dengan lawan jenisnya. Misalnya: Sumbadra Larung, Petruk Gandrung,
Irawan Maling, dan sejenisnya.
4. Jenis wirid: ciri pokok lakon
jenis wirid adalah mengisahkan seorang tokoh wayang yang mendambakan
hakekat kehidupan yang sempurna. Contohnya Kunjarakarna, Ciptaning,
Bimasuci dan sejenisnya.
5. Jenis ngenger: jenis lakon ngenger
ini mengisahkan adanya seorang tokoh wayang yang ingin mengabdikan diri
kepada suatu negara atau raja. Contoh: Sumantri Ngenger, Wibisana
Suwita, dan Trigangga Suwita.
6. Jenis kilatbuwanan: yang
digolongkan ke dalam jenis kilatbuwanan ini adalah lakon-lakon yang
memiliki ciri-ciri alur cerita mirip lakon Kilatbuwana. Adapun ciri-ciri
itu diantaranya adalah: adanya seorang pendeta di Astina yang sanggup
membatalkan perang Baratayuda dengan sarana membunuh tokoh penting yang
berpihak kepada Pandawa, seperti Kresna, Anoman, Semar beserta
anak-anaknya. Tokoh-tokoh yang akan dibunuh ini selalu terhindar dari
kematian, dan beralih rupa menjadi pendeta. Pendeta baru inilah yang
dapat membuka kedok pendeta palsu di Astina tersebut menjadi tokoh asli
yaitu Guru, Durga, Rahwana atau Kala. Contoh: Begawan Lomana, Begawan
Warsitajati, Kresna Cupu dan sejenisnya.
7. Jenis perang ageng: jenis lakon
perang ageng adalah mengisahkan adanya tragedi perang besar serta
melibatkan tokoh-tokoh penting. Contohnya: Baratayuda (Pandawa melawan
Kurawa), Pamuksa (Tremboko melawan Pandu), Guntarayana (Ciptoning
melawan Niwatakawaca) Gojalisuta (Kresna melawan Bomanarakasura) dan
sejenisnya.
8. Jenis boyong: ciri lakon boyong
adalah mengisahkan adanya perpindahan seseorang atau kelompok tokoh
wayang dari satu tempat ketempat lain. Contoh: Srimulih, Pendawa Boyong,
Sinta Boyong, Semar Boyong dan sejenisnya.
Dikutip dari Disertasi Ismoerdijahwati Koeshandari Rahayu
(Tulisan ini diambil dari/sumber: http://wayangprabu.com/2013/03/27/sekilas-tentang-lakon-wayang/#more-13259 Klik laman Wayangprabu.cpm
Saturday, 21 July 2012
Prabu Kresnadwipayana (Abiyasa)
Prabu Kresnadwipayana uga sinebut Prabu Rancakaprawa utawa Sutiknaprawa. Panjenengane duwe garwa telu yaiku:
*Dewi Ambika, peputra Raden Drestharastra, kang cacat wuta wiwit lair. Ya Raden Drestharastra iki sing garwane aran Dewi Gendari duwe anak cacahe satus kang sinebut Sata Kurawa.
*Dewi Ambika, peputra Raden Drestharastra, kang cacat wuta wiwit lair. Ya Raden Drestharastra iki sing garwane aran Dewi Gendari duwe anak cacahe satus kang sinebut Sata Kurawa.
*Dewi Ambalika, peputra Raden Pandhu, uga duwe cacat wiwit lair yaiku pucet lan tengeng. Ya Raden Pandhu iki kang garwane aran Dewi Kunthi sarta Dewi Madrim peputra Pandhawa sing cacahe lima lanang kabeh.
*Dewi Datri kaprenah adhine Dewi Ambika uga dadi garwane Prabu Kresnadwipayana, peputra Raden Yamawidura (Raden Widura).
==> Versi Bahasa Indonesia
Prabu Kresnadwipayana juga disebut Prabu Rancakaprawa atau Sutiknaprawa. Beliau mempunyai istri tiga jumlahnya, yaitu:
*Dewi Ambika, berputrakan Raden Drestharastra, yang cacat buta sejak lahir. Raden Drestharastra mempunyai istri yang bernama Dewi Gendari mempunyai anak seratus jumlahnya yang disebut Sata Kurawa (Seratus Kurawa).
*Dewi Ambalika, berputra Raden Pandhu, juga mempunyai cacat sejak lahir yaitu mempunyai wajah yang pucat dan berleher ''tengen''. Raden Pandhu beristrikan Dewi Kunthi dan Dewi Madrim dan mempunyai putra lima yang disebut Pandhawa.
*Dewi Datri yang masih termasuk adiknya Dewi Ambika (juga menjadi istrinya Prabu Krenadwipayana), berputra Raden Yamawidura (Raden Widura).
Thursday, 19 July 2012
Rama Wiwaha
Kacariyos, Prabu Rama punika sejatosipun dewa. Asmanipun Wisnu. Panjenenganipun manjanma dados manungsa tumurun saking kahyangan dhateng donya. Sadaya kalawau awit panyuwunipun para dewa sanesipun, amargi para dewa boten tentrem dipunganggu dening Nata Alengka inggih punika Dasamuka utawi Rahwana.
Salah satunggaling dinten, Prabu Rama tuwn Lesmana nembe ngumbara dhateng pundi-pundi, njajah dhusun nasak wana, dumugi nagari sanes. Nalika semanten nglangkungi nagari Widheha utawi Manthili. Ratu utawi rajanipun kaparingan asma Janaka. Kaleresan ing Nagari Manthili saweg ngawontenaken sayembara. Sinten ingkang saged menthang gandhewa pusaka kraton, badhe kapundhut mantu, pikantuk putranipunputri ingkang kaparingan asma Shinta.
Kathah ingkang tumut sayembara. Sadaya sami nyobi menthang gandhewa, sami ngedalaken karosanipun nanging boten sami kasil. Punapa malih menthang, njunjung kemawon boten kiyat. Nanging dumugi giliranipun Rama, gandhewa dipunjunjung lon-lonan, lajeng kapenthang kanthi gampil. Sakala gandhewa tugel tengah. Swantenipun gumludhug, kados mbudhegaken talingan. Ingkang sami ningali manahipun sami gumun. Minangka bebungahipun sayembara, pramila Rama pikantuk Ayu Shinta.
Upacara wiwaha mawi cara agengan utawi rame-rame. Dangunipun ngantos pinten-pinten dinten. Sasampunipun anggenipun gadhah damel bibar, kekalihipun lajeng kaboyong saking Nagari Widheha/Manthili dhateng nagari Kosala. Ing Nagari kasebutpenganten kekalih dipunsubya-subya mawi pahargyan mawarni-warni.
(saking Marsudi Basa lan Sastra Jawa;gambar saking google.com)
Saturday, 14 July 2012
Lampahan-lampahan ing Pustaka Raja Purwa

Jilid 1-37
- Manikmaya = nyariyosaken lairipun Manik lan Maya. Manik punika Bathara Guru, Maya punika Ismaya (Semar). Bathara Guru nguwaosi Kahyangan. Semar tumurun dhateng Marcapada. Nyariyosaken lairipun para dewa tuwin widadari.
- Ngruna-ngruni = nyariyosaken Prabu Sengkan turunan saking nagari Parangsari arsa ngayunaken dewi Angruna lan Angruni.
- Watugunung = nyariyosaken Raden Buduk (Radite) nata Gilingwesi lajeng krama kaliyan ibunipun piyambak sesilih dewi Shinta patutan putra cacah 28. Wusana sami musna dados naminipun wuku 30.
- Mumpuni = nyariyosaken dewi Mumpuni krama kaliyan Bathara Yamadipati nanging lajeng rinebat dening Bathara Naga Tamala. Lajeng ugi rebatan kaliyan Srigati Putranipun Bathara Wisnu ing Mendhangkamulan. Nanging wekasan dewi Mumpuni krama kaliyan Naga Tatmala.
- Pakukuhan = nyariyosaken Prabu Pakukuhan/Prabu Kanu/Prabu Sri Mahapunggung ing Purwacarita perang lumawan Prabu Dewaisa nata Gilingwesi. (wonten candhakipun)
Thursday, 12 July 2012
Crita Wayang
Crita wayang ana sing isih baku kasebut ana ing babon buku-buku sing wis ana, kalamangsane diowahi saprayogane. Ana uga crita wayang sing aran carangan. Carangan iku ing babon ora ana ganep, kaya unine ing carangan. Ning uga njupuk nyrempet sawenehing lelakon ing babon kono. Upamane crita "Bale sigala-gala", iku carangan, njupuk babon ing Serat Wiratha Parwa.
Saking pintere para dhalang lan uga kreatif, panjenengane bisa nganggit-anggit lakon anyar, iki jenenge crita rekan, upamane lakon "Semar Mantu".
Kang dianggep babon crita wayang:
- Mahabharata
- Ramayana
- Baratayudha
- Serat Rama
- Pustaka Raja
Friday, 25 November 2011
The Plot of Ramayana Full Story (part 1) (English)
Prabu Janaka, the king of Mantili Kingdom, has got very
beautifull princess namen Dewi Shinta. A competition is conducted in order to
decide who will be the right person to marry Dewi Shinta. The prince of Ayodya
kingdom, R Rama Wijaya, at last wins the competition.
Prabu Rahwana, the ruler of Alengkadiraja Kingdom, is earger
to marry Dewi Widowati. After knowing Shinta. He assumes that Dewi Shinta is
the incarnation of Dewi Widowati whom he is wanting for along time.
(Source: PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Ratu
Boko and www.Borobudurpark.co.id)














