Sugeng rawuh ing "Sinau Jawa". Blog menika minangka salah satunggalipun pambudidaya nguri-uri kabudayan Jawa, tilaranipun linuhung Jawa. Nyuwun Pangapunten awit kathah kekiranganipun. Matur nuwun.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Wayang. Show all posts
Showing posts with label Wayang. Show all posts

Friday, 18 September 2015

BEDHAHIPUN LOKAPALA



BEDHAHIPUN LOKAPALA

Ringkesing cariyos bilih ing negari Lokapala jumeneng satunggaling narendra ingkang kondhang sekti mandraguna, inggih punika ingkang ajejuluk Prabu Danapati. Sang Prabu kagungan aji-aji Pancasona. Kasektenipun Sang Prabu sumebar ngantos negari Alengka. Mireng bilih Prabu Danapati kagungan aji Pancasona ndadosaken runtiking saha muringipun Dasamuka, amargi kaanggep madhani utawi ngembari katiyasipun Prabu Dasamuka. Lajeng Prabu Rahwana ngetingalaken watak angkara murkanipun, jail methakil, drengki srei, dahwen ati open lan legan golek dhadhakan. Prabu Dasamuka lajeng sesumbar “He … manungsa, sapa wani-wani ngembari kadigdayaningsun bakal ingsun tigas jangganira.”
Prabu Dasamuka rumaos kabrangas atinipun lajeng kagungan sedya nglurug dhateng negari Lokapala badhe dipundamel sekarang abang, kamangka Prabu Danapati tasih kaprenah kadang wredhanipun. Sedyanipun Prabu Dasamuka badhe mbedhah negari Lokapala boten dipunsarujuki dening sawetawis kadhang-kadhangipun. Nanging Dasamuka boten nggega tetep mberung badhe mejahi Prabu Danapati kanthi sesanti “Ing salumahing bumi iki, kang duweni hak ndarbeni aji Pancasona mung dheweke dhewe, liyane ora kena lan ora oleh madhani.”
Kelampahan Lokapala saestu ginebag ing ayuda dening Dasamuka sawadya balanipun raseksa. Cacahing kurban tanpa wilangan. Saperangan ingkang dados kurban kawula alit ingkang boten ngertos kenthang kimpule perkawis. Sejatosipun Dasamuka boten gampil nelukaken Danapati, awit sami-sami digdayanipun. Perangipun saya dangu saya riwut, saya rame lan sansaya tambah kurbanipun ing kawula alit. Pramila, lajeng Bathara Guru utusan dhateng Bathara Narada supados misah anggenipun sami bandayuda. Prabu Danapati lajeng karangkul dening Bathara Narada, lajeng dhawuh “Wis wis wis, aja ko bacutake anggonmu padha bandayuda, mesakna kawulamu kang padha dadi kurban pating balasah kaya babadan pacing, mangertia Dasamuka iku dudu mungsuhmu.”
Danapati lajeng kasengkakaken dados Dewa, lajeng kaajak sesarengan minggah dhateng Kahyangan. Dasamuka  bingah sanget, rumaos menang, rumaos saged ngalahaken Danapati, marem atinipun boten wonten malih tiyang ingkang ngembari kadigdayanipun.
Share:

Saturday, 6 December 2014

Kematian Kresna

Kisah kematian Kresna di gambarkan permulaannya di Santiparwa, bagian ke 12 dan Mosala parwa bagian 16 MahaBharata:

Santiparwa
  Usai perang Bharatayuda, ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat para kurawa yang telah tewas, semua anak menantu Gandari (Ibu para Kurawa) telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkara, ‘ Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krisna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.

Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.

Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’

Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krisna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya


Mosalaparwa

Mosalaparwa atau Mausalaparwa adalah buku keenam belas dari seri kitab MahaBharata. Adapun ceritanya mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa.

Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.

Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)

Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.

Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".

Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eraka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.

Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri. Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Kresna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.



Sri Krisna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan yang di mana naga dan para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.

Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu Setelah itu Ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.

Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna kemudian duduk disebuah batu dibawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian dibawah kakinya berwarna kemerah-merahan.

Saat itu ada seorang Vyadha (pemburu) bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kerah-merahan, Ia pikir, ‘Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku’, Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan kemudian panah itu diberi racun. Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang Pemburu segera berlari ketempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Shri Krisna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu. Jara kemudian meminta ma'af atas kesalahannya itu. Sri Kresna tersenyum dan berkata,

‘Kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku’.

Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk Basudewa (Sri Krisna). Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.

Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan Orang-orang tua, anak-anak, janda-janda yang ditinggalkan mati oleh para suaminya di dalam peperangan, Arjuna bersama para ksatria yang tersisa kemudian membawa pergi para Brahmana, Ksatria, waisya, sudra, wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra.

Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan beberapa pesan kepada Arjuna, Basudewa mangkat.

Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.
Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.
Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

Yang menarik dari catatan kematian Krisna adalah:
  • Bangsa Yadawa terkenal tidak terkalahkan sehingga menjadi sombong, arogan kasar dan gemar mabuk2an di menjelang akhir kehidupan sehingga cukup aneh bila ada pemburu yang tidak terusik dan santai di sekitar tempat pertemuan bangsa Yadawa tersebut
  • Disekitar hutan tersebut, saat itu justru sendang terjadi perang dashyat yang berujung musnahnya bangsa Yadawa, maka bagaimana mungkin ada seorang Pemburu yang begitu santainya berburu?
  • Sebagai seorang pemburu rusa, tentunya ia mengerti prilaku rusa yang sangat waspada dan gampang terkejut, jadi bagaimana mungkin ada rusa disekitar perang besar bangsa Yadawa tersebut.
  • Satu kebetulan menarik lainnya adalah arti nama Jara adalah Usia Tua, Sehingga ada pendapat bahwa kematian Krisna di panah Pemburu bernama Jara, merupakan sebuah metaphora? yaitu wafat dikarenakan usia tua [125 tahun]
Dengan catatan di atas, maka terdapat dua pesan terakhir Krishna yaitu:
  • Kematian Krisna adalah benar karena usia tua, sehingga percakapan antara Krishna dan Jara merupakan tambahan dan bukan yang sebenarnya, maka pesan terakhir dari Krisna hanyalah kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk bangsa Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
  • Apabila Pemburu itu ada maka pesan terakhir krisna ada dua yaitu menenangkan Jara dari perasaan bersalah dan kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa2 penduduk Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka. (Sumber: https://www.facebook.com/note.php?note_id=448808221831638 facebook cerita wayang).
Share:

Friday, 25 October 2013

Gagrak dan Pakem


Pagelaran wayang dan/atau karawitan, di masa sekarang dikenal sebagai suatu pagelaran yang dimainkan menurut suatu ‘gagrak’ (pola, gaya, mahzab, atau corak) dan ‘pakem’ tertentu. Seperti pada lukisan, dikenal ada lukisan gaya naturalis, gaya super-naturalis, gaya abstrak, gaya modern dan sebagainya. Seperti itu pula permainan alat-alat gamelan yang lazim disebut ‘karawitan’. Bahkan kita pada masa sekarang, juga mengenal sejumlah seniman karawitan dan/atau wayang yang menonjol dalam suatu gagrak tertentu.

 

Sangat mungkin, persoalan ‘gagrak’ tidak terlampau dominan di masa lampau. Mungkin hal ini juga disebabkan sulitnya hubungan komunikasi antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Namun, sejalan dengan perkembangan budaya dan hubungan antar daerah (di masa lampau, biasanya merupakan hubungan antar kerajaan atau perdagangan), berkembang pula sifat-sifat kedaerahan yang diterapkan dalam permainan alat-alat gamelan (karawitan) dan juga pada berbagai permainan wayang. Dengan demikian, akhirnya kita mengenal adanya sejumlah bentuk ‘gagrak’ tertentu, sesuai sifat khas kedaerahan tertentu.



Penerapan gagrak tertentu, tidak saja dilakukan terhadap permainan alat-alat gamelan, tetapi juga terhadap garap, cara memainkan alat gamelan, aransemen, komposisi, pagelaran wayang, bentuk-rupa wayang, jenis wayang, cara berbicara (antawacana), cara menceritakan (janturan), sulukan (nyanyian dhalang), cara nembang (menyanyikan), atau senggakan (vokal pengisi). Bahkan, sampai ke persoalan pakaian adat atau pakaian tradisional yang digunakan, juga bisa sangat berbeda. Semua ini, merupakan kekayaan budaya Nusantara yang luar biasa dan tak ternilai harganya. Perkembangan seperti ini, jelas merupakan suatu perkembangan yang bernuansa positif dan patut dihargai, dan diapresiasi.

Pakem dipahami sebagai suatu ‘kesepatan bersama’ yang dirancang, dibuat, disepakati, dan dipatuhi oleh sekelompok orang (seniman) pendukungnya. Pakem, di masa lampau memang dikembangkan di pusat-pusat kekuasaan, seperti keraton atau pusat-pusat pemerintahan (kerajaan). Jadi bayangkanlah, pakem ini di masa sekarang kita kenal sebagai semacam ‘juklak’ (petunjuk pelaksanaan) atau ‘juknis’ (petunjuk teknis), yang digunakan untuk melaksanakan suatu pagelaran karawitan dan/atau wayang.




Pakem, bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak, dogmatis, dan sama sekali tidak bisa berubah. Meskipun demikian, dukungan yang sangat kuat terhadap suatu pakem tertentu, nyatanya memang ada. Di masa lampau, dominasi pusat-pusat kekuasaan atau pusat-pusat pemerintahan (kerajaan), memang sangat nyata. Karenanya, di masa lalu terjadinya perubahan pakem boleh dikatakan sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Namun, sejalan dengan terjadinya perkembangan budaya dan pergeseran pusat-pusat kekuasaan (pemerintahan), pakem bergeser dan menjadi sesuatu hal yang tidak lagi terlalu dipatuhi sebagai sesuatu yang bersifat dogmatis dan wajib diikuti.



Di sekitar tahun 1966, Ki Narto Sabdo, seorang dalang wayang kulit purwa yang berasal dari Kota Semarang, mulai ‘melanggar pakem’ dengan menerapkan dua gagrak yang berbeda, yaitu Surakarta dan Yogyakarta (Mataraman) dalam setiap pagelaran wayang kulit purwa yang dimainkannya. Bahkan, pada masa berikutnya, beliau juga menyisipkan gagrak Banyumasan dan bahkan mengkombinasikannya dengan permainan gaya Sunda. Pada awalnya, semua yang dilakukan Ki Narto Sabdo banyak ditentang orang, terutama mereka yang menjadi pendukung fanatik gagrak-gagrak tersebut. Ketidak-sukaan terhadap apa yang dilakukan Ki Narto Sabdo, bahkan sampai pada tindakan pelarangan mementaskan pagelaran di suatu wilayah tertentu.



Tetapi, fakta yang didapat ternyata berbeda. Kelompok-kelompok orang yang menentang Ki Narto Sabdo, berhadapan dengan masyarakat luas yang tidak mempersoalkan apa itu gagrak atau pakem tertentu. Bagi masyarakat pecintanya, pagelaran wayang kulit purwa yang dilakukan Ki Narto Sabdo bisa diterima khalayak penontonnya, serta ‘sangat memenuhi selera dan keinginan’ mereka. Bahkan pada sekitar tahun 1971, hasil polling yang dilaksanakan oleh RRI (Radio Republik Indonesia), menunjukkan bahwa Ki Narto Sabdo merupakan dhalang paling populer di Indonesia (saat itu).



Sejak peristiwa ini, sedikit demi sedikit, pagelaran wayang kulit purwa yang menerapkan beberapa gagrak sekaligus, mulai cair dan tidak lagi dimusuhi atau dipertentangkan. Bahkan, pada masa sekarang, kita bisa melihat permainan dua atau tiga gagrak yang digabungkan dalam satu pagelaran wayang kulit purwa, sudah merupakan kelaziman yang tidak lagi dipersoalkan.




Meskipun kondisi pada masa sekarang sudah sedemikian cair, tetapi pagelaran wayang (yang manapun), sebenarnya tetap berkiblat pada suatu gagrak dan/atau pakem tertentu. Tentu saja, seringkali dilengkapi dengan perubahan, penyesuaian, dan penggabungan dengan gagrak lainnya. Karenanya, pada masa sekarang kita sangatlah beruntung masih bisa menonton pagelaran-pagelaran wayang sesuai dengan gagrak dan/atau pakem tertentu.


Pagelaran gagrak Surakarta

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Surakarta (Solo), umumnya sangat mengeksploitas permainan alat-alat gamelan yang eksotis, rumit, dan anggun.


Pagelaran gagrak Yogyakarta

Di kalangan masyarakat awam, gagrak Yogyakarta lebih dikenal sebagai gagrak Mataraman. Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Yogyakarta (Mataraman), umumnya sangat mengekspolitas permainan alat-alat gamelan yang bersifat ‘asli Mataram’, penuh kerakyatan, dan penuh kebebasan berkespresi.


Pagelaran gagrak Banyumasan

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Banyumasan, lebih dikenal karena sangat dekat dengan gagrak Pesisiran. Umumnya menampilkan pagelaran yang bersifat gembira, penuh kelucuan, kerakyatan, banyak menerapkan ‘senggakan’, dan penuh sorak-sorai kegembiraan.


Pagelaran gagrak Semarangan

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Semarangan, banyak mengeksploitasi gendhing-gendhing berbasis nada pelog. Gagrak Semarangan bisa dikatakan menerima dominasi yang kuat dari gagrak Surakarta. Meskipun demikian, permainan karawitannya yang banyak mengeksploitasi nada pelog, membuatnya sangat berbeda dan berkesan sangat gagah.


Pagelaran gagrak Pesisiran

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Pesisiran, merupakan bentuk pagelaran yang paling banyak mengeksploitasi permainan gendhing-gendhing yang berbasis nada ‘slendro barang miring’ (bernada minor). Ini merupakan salah satu kekhasan yang umumnya tidak terdapat pada gagrak lainnya. Karenanya, permainan wayang, karawitan, dan vokalnya; cenderung menampilkan warna dan suasana yang sendu, romantis, dan juga sedih.


Pagelaran gagrak Jawa Timuran

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Jawa Timuran, mempunyai gaya yang sangat khas dan berbeda dengan gagrak-gagrak lain yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kesan kuat, merdeka, enerjik, dan garang; sangatlah terlihat tidak hanya pada permainan alat-alat gamelannya, tetapi juga pada bentuk-rupa wayangnya.


Pagelaran gagrak Bali

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali, bisa dikatakan benar-benar bebda dengan yang ada di Pulau Jawa. Banyak orang yang tidak tahu, bahwa gamelan Bali yang dipakai sebagai kelengkapan karawitan wayang gagrak Bali, adalah gamelan berbasis tangga-nada slendro, dan memakai ricikan gamelan berupa gender. Karenanya, pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali menjadi sangat eksotis dan sangat anggun. Ini akan merupakan pagelaran yang amat sangat berbeda dengan pagelaran tari Bali misalnya (yang sudah sangat terkenal).


Pagelaran gagrak Sunda

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Sunda, berkembang sangat pesat sejak sekitar tahun 1970-an. Permainan karawitan gagrak Sunda, mulai menerima banyak perubahan sejak masa itu sampai sekarang. Gaya permainan wayang yang sangat mengeksploitasi tokoh-tokoh wayang tertentu, merupakan salah satu kekhasan pagelaran wayang gagrak Sunda masa sekarang.


Pagelaran gagrak Luar Jawa

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Luar Jawa, seringkali sangat dipengaruhi kondisi geografis, bahasa, dan adat kebiasaan setempat. Karenanya, pada masa sekarang kita bisa melihat gagrak Luar Jawa ini berkembang di beberapa wilayah yang berbeda, dan menghasilkan bentuk pagelaran karawitan dan/atau wayang yang berbeda-beda pula. Misalnya, pagelaran wayang gaya Jambi, Palembang, Banjar-Masin, Lombok, atau lainnya.


Pagelaran gagrak Cirebonan

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan, bisa dikatakan merupakan gabungan beberapa gagrak yang berbeda. Umumnya, merupakan gabungan gagrak Sunda (yang sangat dominan), gagrak Banyumasan (Jawa), dan beberapa di antaranya juga dengan gagrak Betawi. Pengaruh agama Islam dan budaya Cina, terasa sangat lekat dengan berbagai pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan.


Pagelaran gagrak Betawi

Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Betawi, secara umum sangat dipengaruhi oleh gagrak Sunda dan budaya Cina.


Bram Palgunadi

Share:

Monday, 7 October 2013

Sekilas tentang Lakon Wayang



Pengertian lakon
Pertunjukan wayang kulit purwa, lazim disebut pakeliran. Jika orang melihat sebuah pertunjukan wayang, sebenarnya yang dilihat adalah pertunjukan lakon. Oleh karena itu, kedudukan lakon dalam pakeliran sangat penting sifatnya. Melalui garapan lakon, terungkap nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memperkaya pengalaman kejiwaan.
Dikalangan pedalangan pengertian Lakon sangat tergantung dengan konteks pembicaraannya. Lakon dapat diartikan alur cerita, atau judul cerita, atau dapat diartikan sebagai tokoh utama dalam cerita (Kuwato dalam Murtiyoso. 2004).
Selain itu lakon merupakan salah satu kosakata bahasa Jawa, yang berasal dari kata laku yang artinya perjalanan atau cerita atau rentetan peristiwa (Murtiyoso. 2004). Jadi lakon wayang adalah perjalanan cerita wayang atau rentetan peristiwa wayang. Perjalanan cerita wayang ini berhubungan dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagai pelaku dalam pertunjukan sebuah lakon. Kemudian di dalam sebuah cerita wayang akan muncul permasalahan, konflik-konflik dan penyelesaiannya ini terbentang dari awal sampai akhir pertunjukan (jejer sampai dengan tancep kayon) dengan wujud kelompok unit-unit yang lebih kecil yang disebut adegan. Unit adegan yang satu dengan adegan yang lain, saling terkait, baik langsung maupun yang tidak langsung membentuk satu sistem yang disebut lakon. 

Judul lakon
Judul lakon adalah suatu nama untuk menunjuk rentetan peristiwa tertentu. Fungsinya sebagai pembatas atau pembeda antara satu kelompok peristiwa, dengan kelompok peristiwa yang lain. Hal ini tampak jelas apabila judul lakon itu merupakan suatu bagian dari cerita besar, misalnya, cerita perang Baratayudha. Peristiwa kepergian Kresna ke Hastina sebagai duta dibatasi dalam judul Kresna Duta, peristiwa tampilnya Bisma ke medan perang sampai gugur, dibatasi dengan judul Bisma Gugur, begitu seterusnya.
Meskipun lakon yang dipentaskan adalah lakon carangan (Lakon carangan, adalah merupakan lakon yang digubah dari lakon pokok, yang kenudian dikembangkan sendiri. Bahkan bisa diurai lagi, menjadi cerita-cerita yang lain lagi), tetapi lakon itu tentu dikaitkan dengan suatu kehidupan tokoh wayang dalam episode tertentu. Misalnya, lakon carangan ‘Parta Krama’ (Kisah Arjuna merebut Sumbadra), dalam pakeliran tradisi gaya keraton Yogyakarta, dibuat menjadi berseri, yakni Srikandi Maguru Manah, Abimanyu Lahir, Sumbadra Larung. Sedangkan lakon carangan ‘Parta Krama’ diambil dari Kakawin Sumbadra Wiwaha, yang merupakan bagian dari Adiparwa.

Pertumbuhan dan Perkembangan Lakon
Lakon wayang sudah diketahui sejak tahun 907 seperti yang tersurat dalam prasasti Balitung (Zoetmulder. 1983). Dari isi prasasti Balitung dapat diketahui bahwa kedua epos besar yang berasal dari India yaitu wiracarita Mahabarata dan Ramayana telah dipertunjukkan pada masa itu.
Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya di Indonesia, epos Mahabarata dan Ramayana ini oleh para pujangga atau genius lokal telah dimodifikasi sedemikian rupa (penambahan dan perubahan) dalam kurun waktu yang sangat panjang untuk diselaraskan dengan situasi dan kondisi nilai budaya setempat. Oleh karena itu terdapat banyak hal yang tidak kita dapatkan dalam epos Mahabarata dan Ramayana yang “asli”, seperti misalnya tokoh Pancawala. Tokoh Pancawala ini di Indonesia adalah hasil perkawinan antara Drupadi dan Puntadewa, padahal dalam Mahabarata India kita ketahui Drupadi kawin dengan ke lima Pandawa dan dari hasil perkawinan itu lahirlah seorang anak laki-laki.

Tokoh punakawan yaitu, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong ternyata juga tidak didapatkan dalam epos India itu. Demikian juga lakon-lakon carangan termasuk sinkretisme (percampuran antara cerita Ramayana dan Mahabarata di dalam lakon pedalangan Jawa), juga tidak diketahui dalam cerita Ramayana dan Mahabarata yang asli.

Banyak sumber lakon wayang purwa menjelaskan (Murtiyoso. 2004), bahwa Prabu Dharmawangsa Teguh, seorang raja yang bertahta di Jawa Timur (tahun 997-1007) menterjemahkan beberapa bagian dari Ramayana dan Mahabarata yang berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Jawa Kuna atau Kawi dalam bentuk prosa, diantaranya adalah,

a. Utarakanda di antaranya berisi cerita tentang leluhur Dasamuka, Dasamuka Lahir, Arjuna Sastrabahu, dan cerita tentang Dewi Shinta.
b. Adiparwa di antaranya berisi cerita Dewi Lara Amis, Bale Sigala-gala, Arimba Lena, Peksi Dewata, Kala Rahu (Rambu Culung atau terjadinya gerhana matahari), dan cerita lahir-lahiran termasuk perkawinan Arjuna dan Sumbadra.
c. Subhaparwa berisi cerita Pandawa Dadu
d. Wirathaparwa berisi cerita Jala Abilawa dan Wirarha Parwa
e. Udyagaparwa di antaranya berisi cerita Kresna Gugah
f. Bismaparwa berisi cerita Bisma Gugur dan lain-lain (Poerbatjaraka, 1952)

Raja-raja Jawa yang lain setelah Prabu Dharmawangsa Teguh, setelah raja Kediri, Majapahit, Demak, Kartasura, dan Surakarta, banyak menghasilkan karya-karya sastra, diantaranya lakon-lakon wayang, seperti misalnya, lakon Kresna Kembang di ambil dari Kitab Kresnayana; lakon Ciptoning dari Kitab Arjunawiwaha; lakon Dasarata Lahir diambil dari Kitab Sumanasantaka; Betara Gana Lahir diambil dari Smaradahana, dan lain sebagainya.

Judul-judul lakon yang bersumber dari serat-serat seperti yang telah disebutkan, dan diantaranya masih dipentaskan oleh para dalang sampai sekarang. Namun sampai kurun waktu tertentu, wujud lakon di dalam pakeliran yang meliputi teknis pakeliran, alur lakon, bangunan lakon maupun garap lakonnya, baru dapat memperoleh gambaran, setelah munculnya pakem pedalangan-pedalangan di awal tahun 1930-an untuk panduan para siswa pedalangan, yang diprakarsa oleh Keraton Surakarta, Yogyakarta dan Mangkunegaran. Wujud pakeliran pada setiap generasi, sebelum dan sesudah adanya pakem, selalu mengalami perubahan, baik bentuk maupun isinya.

Pada masa seputar kemerdekaan penyelenggaraan pertunjukan wayang terkait erat dengan kegiatan ritual, seperti suran, sedhekah bumi, sandranan dan semacamnya, maka lakon-lakon wayang yang beredar waktu itu – kecuali lakon-lakon lama yang telah ada – juga lakon-lakon ruwatan seperti Sudamala, Tudhungkala, Murwakala, Babat Wanamarta, Udan Mintaya dan lain-lain. Selain itu pertunjukan wayang juga digunakan untuk menyertai hajat yang berhubungan dengan daur hidup manusia, seperti mitoni, kelahiran, tetakan atau supitan, perkawinan, nyewu, dan sebagainya. Untuk hajat perkawinan lakon-lakon yang ditampilkan, adalah lakon-lakon raben, diantaranya Parta Krama, Wisanggeni Krama dan sejenisnya, juga untuk berbagai macam hajatan keluarga seringkali dipentaskan lakon jenis wahyu. Lakon-lakon wahyu ini, juga beredar di masyarakat pedalangan, misalnya, Makutharama, Purba Kayun, Trimanggala, Cangkir Gadhing, dan lain-lain.

Kemudian pada perkembangannya muncul lakon-lakon baru yang disebut lakon carangan, dan ketentuan-ketentuan tersebut masih berlaku dan dimainkan oleh para dalang hingga saat ini. Pada perkembangannya kemudian dari hasil wawancara diperoleh keterangan bahwa hampir semua dalang mengaku, pernah menyusun, menggubah dan atau mencipta lakon. Lahirnya lakon-lakon carangan ini merupakan ekspresi seniman dalang yang terpacu oleh faktor internal dan eksternal untuk memenuhi tuntutan jaman, karena lakon-lakon yang telah ada kemungkinan tidak lagi dapat menampung permasalahan-permasalahan yang ada di dalam masyarakatnya (Murtiyoso. 2006).

Penggolongan jenis lakon
Penggolongan jenis lakon wayang kulit purwa, dapat digolongkan menurut jenisnya, misalnya jenis wahyu, raben, lahir, mukswa dan lain-lain. Tujuan dari penggolongan jenis lakon yang dimaksudkan, adalah untuk memahami karakteristik lakon, yang sebelumnya (Murtiyoso. 2006) mengalami kesulitan dalam menggolongkan jenis lakon tersebut. Karena beragamnya lakon-lakon wayang yang diantaranya disebabkan adanya tumpang tindihnya alur, maka jenis lakon digolongkan berdasarkan judul-judul lakon dan peristiwa terpenting yang terjadi dalam suatu kelompok lakon. untuk mempermudah penggolongannya (Murtiyoso dan Suratno. 1992)

Penggolongan berdasarkan judul lakon dapat digolongkan menjadi jenis lahiran, raben, alap-alapan, gugur atau lena, mbangun, jumenengan, wahyu, nama tokoh, banjaran dan duta. Sedangkan penetapan jenis lakon berdasarkan peristiwa terpenting yang terjadi dalam suatu kelompok lakon, antara lain jenis paekan, kraman, asmara, wirid, ngenger, kilatbuwanan, perang ageng, dan boyong. Selanjutnya secara singkat akan diuraikan masing-masing jenis lakon yang digolongkan berdasarkan kedua criteria itu berikut ciri pokok dengan contohnya (Mutiyoso, dkk. 2004)

Penggolongan Berdasarkan Judul Lakon (Mutiyoso, dkk. 2004)
1. Jenis lahiran: ciri pokok lakon jenis lahiran adalah, bahwa dalam lakon ini terjadi kelakiran seorang tokoh wayang. Contoh: Setyaki Lahir, Abimanyu Lahir, Wisanggeni Lahir dan lain-lain.
2. Jenis raben: seperti halnya lakon jenis lahiran, di dalam lakon jenis raben atau krama ini terjadi perkawinan atau krama seorang tokoh wayang. Contoh: Parta Krama, Rabine Gathotkaca, Palasara Krama, Irawan Rabi, dan sejenisnya.
3. Jenis alap-alapan: dalam jenis alap-alapan ini, ceritanya terjadi perebutan putri raja diantara para satria atau raja dari berbagai tempat, misalnya, alap-alapan Sukesi, Alap-alapan Dursilawati, Alap-alapan Setyaboma, dan sejenisnya. Mirip dengan lakon alap-alapan ini adalah lakon dengan judul sayembara, misalnya, Sayembara Kasipura, Gandamana Sayembara, dan Sayembara Mantili.
4. Jenis gugur atau lena: dalam lakon jenis ini terdapat meninggalnya seorang tokoh, misalnya Abimanyu Gugur, Gathotkaca Gugur, Salya Gugur, Dasamuka Lena, Kangsa Lena dan lain-lain.
5. Jenis mbangun: ciri pokok lakon jenis mbangun adalah adanya kegiatan pembangunan suatu tempat, misalnya mBangun Taman Maerakaca, mBangun Candi Saptarengga, Semar mBangun Gedhongkencana, Semar mBangun Klampis Ireng dan lain-lain.
6. Jenis jumenengan: di dalam lakon jenis jumenengan, terjadi kegiatan atau peristiwa pengukuhan atau penetapan seorang tokoh menjadi raja, misalnya Jumenengan Parikesit, Jumenengan Puntadewa, Jumenengan Kakrasana dan sejenisnya.
7. Jenis wahyu: isi pokok lakon jenis wahyu adalah peristiwa pemberian anugerah (wahyu) dari dewa kepada tokoh wayang tertentu karena keberhasilan atau jasa tokoh tertentu ini kepada dewa. Contoh: Wahyu Eka Bawana, Wahyu Trimanggala, Wahyu Payung Tunggulnaga, dan sejenisnya.
8. Jenis nama tokoh: ciri lakon wayang jenis nama tokoh yang dimaksudkan di sini adalah pertunjukan lakon wayang yang diberi judul dengan hanya menyebut nama tokoh wayang, dan nama tokoh ini, biasanya nama tokoh utama dalam peristiwa lakon. Misalnya: Begawan Kilatbuwana, Begawan Lomana, Mayangkara, Begawan Ciptoning, Watugunung, Begawan Dwihastha dan sejenisnya.
9. Jenis banjaran: adalah penggabungan beberapa lakon yang menceritakan seorang tokoh dari lahir sampai mati dalam satu kesatuan pentas. Contoh: Banjaran Bima, Banjaran Karna, Banjaran Gatutkaca, dan sejenisnya.
10. Jenis duta: ciri lakon jenis duta adalah adanya seorang tokoh wayang yang mendapat tugas menjadi duta dari seorang raja agar dapat menyelesaikan suatu masalah. Contoh: Anoman Dhuta, Kresna Dhuta, Drupada Dhuta, dan sejenisnya.

Penggolongan Jenis Lakon berdasarkan Peristiwa Penting (Mutiyoso, dkk. 2004)
1. Jenis paekan: ciri lakon jenis paekan adalah adanya rencana secara licik seseorang atau kelompok tokoh wayang untuk mencelakakan tokoh wayang yang lain. Misalnya: Gandamana Luweng, Gatutkaca Sungging, Kresna Cupu, Sinta Ilang, dan sejenisnya.
2. Jenis kraman: ciri lakon jenis kraman adalah adanya peristiwa pemberontakan atau makar, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Misalnya: Brajadhenta mBalela, Kangsa Adu Jago, dan Jagal Abilawa.
3. Jenis asmara: ciri lakon jenis asmara adalah adanya kisah pokok tentang seorang tokoh yang jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Misalnya: Sumbadra Larung, Petruk Gandrung, Irawan Maling, dan sejenisnya.
4. Jenis wirid: ciri pokok lakon jenis wirid adalah mengisahkan seorang tokoh wayang yang mendambakan hakekat kehidupan yang sempurna. Contohnya Kunjarakarna, Ciptaning, Bimasuci dan sejenisnya.
5. Jenis ngenger: jenis lakon ngenger ini mengisahkan adanya seorang tokoh wayang yang ingin mengabdikan diri kepada suatu negara atau raja. Contoh: Sumantri Ngenger, Wibisana Suwita, dan Trigangga Suwita.
6. Jenis kilatbuwanan: yang digolongkan ke dalam jenis kilatbuwanan ini adalah lakon-lakon yang memiliki ciri-ciri alur cerita mirip lakon Kilatbuwana. Adapun ciri-ciri itu diantaranya adalah: adanya seorang pendeta di Astina yang sanggup membatalkan perang Baratayuda dengan sarana membunuh tokoh penting yang berpihak kepada Pandawa, seperti Kresna, Anoman, Semar beserta anak-anaknya. Tokoh-tokoh yang akan dibunuh ini selalu terhindar dari kematian, dan beralih rupa menjadi pendeta. Pendeta baru inilah yang dapat membuka kedok pendeta palsu di Astina tersebut menjadi tokoh asli yaitu Guru, Durga, Rahwana atau Kala. Contoh: Begawan Lomana, Begawan Warsitajati, Kresna Cupu dan sejenisnya.
7. Jenis perang ageng: jenis lakon perang ageng adalah mengisahkan adanya tragedi perang besar serta melibatkan tokoh-tokoh penting. Contohnya: Baratayuda (Pandawa melawan Kurawa), Pamuksa (Tremboko melawan Pandu), Guntarayana (Ciptoning melawan Niwatakawaca) Gojalisuta (Kresna melawan Bomanarakasura) dan sejenisnya.
8. Jenis boyong: ciri lakon boyong adalah mengisahkan adanya perpindahan seseorang atau kelompok tokoh wayang dari satu tempat ketempat lain. Contoh: Srimulih, Pendawa Boyong, Sinta Boyong, Semar Boyong dan sejenisnya.
Dikutip dari Disertasi Ismoerdijahwati Koeshandari Rahayu
(Tulisan ini diambil dari/sumber: http://wayangprabu.com/2013/03/27/sekilas-tentang-lakon-wayang/#more-13259 Klik laman Wayangprabu.cpm
Share:

Saturday, 21 July 2012

Prabu Kresnadwipayana (Abiyasa)

==> Versi Bahasa Jawa
Prabu Kresnadwipayana uga sinebut Prabu Rancakaprawa utawa Sutiknaprawa. Panjenengane duwe garwa telu yaiku:
*Dewi Ambika, peputra Raden Drestharastra, kang cacat wuta wiwit lair. Ya Raden Drestharastra iki sing garwane aran Dewi Gendari duwe anak cacahe satus kang sinebut Sata Kurawa.
*Dewi Ambalika, peputra Raden Pandhu, uga duwe cacat wiwit lair yaiku pucet lan tengeng. Ya Raden Pandhu iki kang garwane aran Dewi Kunthi sarta Dewi Madrim peputra Pandhawa sing cacahe lima lanang kabeh.
*Dewi Datri kaprenah adhine Dewi Ambika uga dadi garwane Prabu Kresnadwipayana, peputra Raden Yamawidura (Raden Widura).


==> Versi Bahasa Indonesia
Prabu Kresnadwipayana juga disebut Prabu Rancakaprawa atau Sutiknaprawa. Beliau mempunyai istri tiga jumlahnya, yaitu:
*Dewi Ambika, berputrakan Raden Drestharastra, yang cacat buta sejak lahir. Raden Drestharastra mempunyai istri yang bernama Dewi Gendari mempunyai anak seratus jumlahnya yang disebut Sata Kurawa (Seratus Kurawa).
*Dewi Ambalika, berputra Raden Pandhu, juga mempunyai cacat sejak lahir yaitu mempunyai wajah yang pucat dan berleher ''tengen''. Raden Pandhu beristrikan Dewi Kunthi dan Dewi Madrim dan mempunyai putra lima yang disebut Pandhawa.
*Dewi Datri yang masih termasuk adiknya Dewi Ambika (juga menjadi istrinya Prabu Krenadwipayana), berputra Raden Yamawidura (Raden Widura).


Share:

Thursday, 19 July 2012

Rama Wiwaha


Kacariyos, Prabu Rama punika sejatosipun dewa. Asmanipun Wisnu. Panjenenganipun manjanma dados manungsa tumurun saking kahyangan dhateng donya. Sadaya kalawau awit panyuwunipun para dewa sanesipun, amargi para dewa boten tentrem dipunganggu dening Nata Alengka inggih punika Dasamuka utawi Rahwana.

Salah satunggaling dinten, Prabu Rama tuwn Lesmana nembe ngumbara dhateng pundi-pundi, njajah dhusun nasak wana, dumugi nagari sanes. Nalika semanten nglangkungi nagari Widheha utawi Manthili. Ratu utawi rajanipun kaparingan asma Janaka. Kaleresan ing Nagari Manthili saweg ngawontenaken sayembara. Sinten ingkang saged menthang gandhewa pusaka kraton, badhe kapundhut mantu, pikantuk putranipunputri ingkang kaparingan asma Shinta.

Kathah ingkang tumut sayembara. Sadaya sami nyobi menthang gandhewa, sami ngedalaken karosanipun nanging boten sami kasil. Punapa malih menthang, njunjung kemawon boten kiyat. Nanging dumugi giliranipun Rama, gandhewa dipunjunjung lon-lonan, lajeng kapenthang kanthi gampil. Sakala gandhewa tugel tengah. Swantenipun gumludhug, kados mbudhegaken talingan. Ingkang sami ningali manahipun sami gumun. Minangka bebungahipun sayembara, pramila Rama pikantuk Ayu Shinta.

Upacara wiwaha mawi cara agengan utawi rame-rame. Dangunipun ngantos pinten-pinten dinten. Sasampunipun anggenipun gadhah damel bibar, kekalihipun lajeng kaboyong saking Nagari Widheha/Manthili dhateng nagari Kosala. Ing Nagari kasebutpenganten kekalih dipunsubya-subya mawi pahargyan mawarni-warni.

(saking Marsudi Basa lan Sastra Jawa;gambar saking google.com)
Share:

Saturday, 14 July 2012

Lampahan-lampahan ing Pustaka Raja Purwa



Jilid 1-37
  1. Manikmaya = nyariyosaken lairipun Manik lan Maya. Manik punika Bathara Guru, Maya punika Ismaya (Semar). Bathara Guru nguwaosi Kahyangan. Semar tumurun dhateng Marcapada. Nyariyosaken lairipun para dewa tuwin widadari.
  2. Ngruna-ngruni = nyariyosaken Prabu Sengkan turunan saking nagari Parangsari arsa ngayunaken dewi Angruna lan Angruni.
  3. Watugunung = nyariyosaken Raden Buduk (Radite) nata Gilingwesi lajeng krama kaliyan ibunipun piyambak sesilih dewi Shinta patutan putra cacah 28. Wusana sami musna dados naminipun wuku 30.
  4. Mumpuni = nyariyosaken dewi Mumpuni krama kaliyan Bathara Yamadipati nanging lajeng rinebat dening Bathara Naga Tamala. Lajeng ugi rebatan kaliyan Srigati Putranipun Bathara Wisnu ing Mendhangkamulan. Nanging wekasan dewi Mumpuni krama kaliyan Naga Tatmala.
  5. Pakukuhan = nyariyosaken Prabu Pakukuhan/Prabu Kanu/Prabu Sri Mahapunggung ing Purwacarita perang lumawan Prabu Dewaisa nata Gilingwesi. (wonten candhakipun)
Share:

Thursday, 12 July 2012

Crita Wayang


Crita wayang ana sing isih baku kasebut ana ing babon buku-buku sing wis ana, kalamangsane diowahi saprayogane. Ana uga crita wayang sing aran carangan. Carangan iku ing babon ora ana ganep, kaya unine ing carangan. Ning uga njupuk nyrempet sawenehing lelakon ing babon kono. Upamane crita "Bale sigala-gala", iku carangan, njupuk babon ing Serat Wiratha Parwa.

Saking pintere para dhalang lan uga kreatif, panjenengane bisa nganggit-anggit lakon anyar, iki jenenge crita rekan, upamane lakon "Semar Mantu".
Kang dianggep babon crita wayang:
  1. Mahabharata
  2. Ramayana
  3. Baratayudha
  4. Serat Rama
  5. Pustaka Raja
Share:

Friday, 25 November 2011

The Plot of Ramayana Full Story (part 1) (English)



Prabu Janaka, the king of Mantili Kingdom, has got very beautifull princess namen Dewi Shinta. A competition is conducted in order to decide who will be the right person to marry Dewi Shinta. The prince of Ayodya kingdom, R Rama Wijaya, at last wins the competition.
Prabu Rahwana, the ruler of Alengkadiraja Kingdom, is earger to marry Dewi Widowati. After knowing Shinta. He assumes that Dewi Shinta is the incarnation of Dewi Widowati whom he is wanting for along time.
(Source: PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko and www.Borobudurpark.co.id)

Share:

Main Menu