Sugeng rawuh ing "Sinau Jawa". Blog menika minangka salah satunggalipun pambudidaya nguri-uri kabudayan Jawa, tilaranipun linuhung Jawa. Nyuwun Pangapunten awit kathah kekiranganipun. Matur nuwun.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, 24 December 2009

KEPERCAYAAN RAKYAT JAWA

1. Gentong Suripta
Bila ada bayi yang wetone pada orang tua sebagai syarat orang tua, harus dibuang dulu di tampah kemudian ditemu orang lain dan dikembalikan kepada ibunya untuk diasuh dan bila saat menikah harus ditebus dengan gedhang (pisang) selangkap.

2. Genthong Sinogo
Bila ada yang sakit dan kemudian diminumi air genthong sinogo maka akan sembuh. Menurut cerita dulu yang mengangsu adalah Seh Dong Bo pengikut ki Ageng. Dulu yang She Dong Bo membangkang bila dengan ki Ageng, kemudian dikasih hukuman untuk mengisi genthong tersebut dengan menggunakan kranjang, namun bisa penuh ninggal di makamkan di Carakan.
Tidak ada orang yang berani bersumpah untuk gentong sinogo. Misalnya orang mencuri tidak mengaku kemudian ditakut-takuti diberi gentong sinogo maka orang tersebut tidak akan berani berbohong karena apabila berbohong maka orang tersebut akan mati.

3. Sinuwun adang
Di daerah Solo, Surakarta ada istilah kepercayaan rakyat yang sering disebut dengan sinuwun adang. Ketika ada orang yang sedang memasak nasi tidak boleh ada orang asing yang membuka nasi tersebut. Karena dipercayakan apabila ada orang asing yang membukanya maka nasinya tidak akan matang. Tradisi ini dilakukan delapan tahun sekali.

4. Sendang Siwani
Semula Sendang Siwani masih merupakan sendang alam yang kecil tidak terawat, berdekatan dengan pohon yang rindang dan airnya sangat jernih. Kemudian didirikan sebuah bangsal dengan ukuran 3 X 5 meter untuk bernaung para peziarah. Konon yang mendirikan bangunan tersebut adalah Bapak Soemoharyomo, ayahanda dari almarhumah Ibu Tien Soeharto.
Selanjutnya pada tahun 1980, Sendang Siwani dibangun oleh Bapak Soemoharmanto, paman dari almarhumah Ibu Tien Soeharto. Sendang tersebut ditembok dan diberi pagar tembok pula. Kalau semula terbuka, sekarang sudah dibangun kamar mandi untuk perempuan dan laki-laki. Pada tanggal 14 Agustus 1992, Sendang Siwani dipugar oleh para keturunan dari Pangeran Samber Nyawa dan keturunan dari “Punggawa Baku”. Pemugaran tersebut selesai dan diresmikan pada tanggal 13 Desember 1992, dengan disertai candrasengkala, Gatining Panembah Trus Wani.
Sendang Siwani merupakan petilasan Raden Mas Said (KGPAA Mangkunegara I) saat melakukan gerilya melawan penjajahan Belanda. Di Sendang inilah Raden Mas Said mendapatkan petunjuk dari Sang Widhiwasa bagaimana caranya agar mendapatkan kemenangan dalam perang melawan penjajah Belanda.
Selanjutnya tempat ini menjadi mitos bahwa orang yang melakukan tirakat / meditasi ditempat ini akan terkabul permohonannya. Sampai sekarang tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata ritual di kabupaten Wonogiri baik dari kalangan bawah, menengah maupun atas.

5. Labuhan Ageng Sembukan
Pantai Sembukan merupaka salah satu obyek wisata di kabupaten Wonogiri yang mempunyai beberapa sarana ibadah antara lain masjid, paseban dan sanggar. Konon Pantai Sembukan ini merupakan gerbang ke-13 kerajaan Ratu Kidul. Gerbang ini digunakan untuk lewat Kanjeng Ratu Kidul saat menghadiri pertemuan dengan Raja-Raja Kasunanan Surakarta (Paku Buwono). Setiap setahun sekali diadakan selamatan (Larung Ageng) dilanjutkan wayang kulit baik dari Kraton Surakarta, Pemerintah Kabupaten Wonogiri maupun masyarakat Desa Paranggupito. Maksud dan tujuan upacara ritual Larung Ageng adalah selamat dari gangguan roh-roh halus. Upacara-upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat tidak hanya berfungsi untuk menolak atau menangkis marabahaya dan penyakit menular, melainkan sering juga digunakan untuk satu permintaan, misalnya jika terjadi musim kering yang berkepanjangan sehingga orang mengalami kekuranangan air. Event ini sangat menarik dan selalu mendatangkan wisatawan yang cukup banyak. Pada umumnya wisatawan mengharapkan berkah untuk kesuksesan dan kebahagiaan dengan melakukan meditasi, menyatu dengan Sang Pencipta memohan agar semua cita-citanya terkabul, dan ternyata banyak yang berhasil. Obyek wisata ini masuk wilayah Desa Paranggupito, kecamatan Paranggupito, 60km dari ibukota kabupaten Wonogiri kearah selatan dan memerlukan waktu perjalanan kira-kira 2jam dengan kendaraan bermotor.

6. Ziarah Di Makam Pangeran Samudro
“Sing sapa nduwe panjangka marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iki kudu sarana pawitan temen, mantep, ati kang suci, aja slewang-sleweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakan dhemene kaya dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane.”
“Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikehendaki maka untuk mencapainya harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati yang suci, jangan serong kanan / kiri harus konsentrasi pada ynga dikehendaki / yang diinginkan, dekatkan keinginan, seakan-akan seperti menuju ketempat kesayangannya / kesenangannya.”
Petikan wacana diatas memang dapat ditafsirkan keliru, khususnya oleh masyarakat awam. Ada pendapat yang keliru yang mengatakan bahwa apabila berziarah ke makam Pangeran Samudro harus seperti ketempat kekasih / dhemenan dalam pengertian bahwa berziarah kesana harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebo serta melakukan hubungan seksual dengan bukan isteri atau suami yang sah. Parahnya pendapat tersebut telah diterima oleh sebagian besar masyarakat.
Akan tetapi pandangan atau pendapat tersebut tidak benar dan perlu diluruskan. Muncul pendapat tersebut dari penafsiran pengertian kata “dhemenan”. Pengertian kata “dhemenan” dalam bahasa Jawa diartikan kekasih lain yang bukan isteri / suami sah (pasangan kompul kebo), kekasih gelap, isteri / suami simpanan. Sehingga pengertiannya menjadi apabila ziarah ke makam Pangeran Samudro harus membawa dhemenan.
Arti sesungguhnya dari kata “dhemenan” dalam konteks naskah bahasa jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang ingin segera terwujud / tercapai seperti seakan-akan ingin menemui kekasih.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inti ziarah ke makam Pangeran Samudro di gunung Kemukus adalah apabila punya kemauan, cita-cita yang ingin dicapai, atau apabila menghadapi rintangan yang menghalangi jalan untuk mencapai cita-cita / tujuan tersebut harus dilakukan dengan cara bersungguh-sungguh, hati yang bersih suci dan konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai / dituju. Dengan demikian terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut dengan mudah.

7.Khuthuk
Khuthuk merupakan tradisi yang ada di daerah wonogiri. Tradisi ini dilakukan untuk memberi makan pusaka pada malam hari jum’at kliwon. Ritual khuthuk biasanya dilakukan pada hari Jum’at pahing, Jum’at pon dan jum’at kliwon. Kegiatan yang dilakukan biasanya adalah bakaran menyan, dan kembang setaman yang dimasukkan ke dalam air. Jika senjatanya bergetar tidak bisa didekati, dipercaya bahwa ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu.

8.Ngalap Berkah
Kepercayaan di daerah sekitar Surakarta yang percaya bahwa kotoran kerbau diyakini membawa berkah.

(diposting oleh cia pbsj 07' unnes)
(disusun oleh kelompok penelitian folklor setengah lisan rombel 4 angkatan 2oo8 (Ita Mustikaningrum dkk) Dosen Bapa Sukadaryanto, PBSJ-BSJ-FBS-UNNES Universitas Negeri Semarang)
Share:

Dolanan Jawa Tradisional (eks Karesidenan Surakarta)


1. Jamuran
Permainan ini dilakukan oleh sekelompok orang minimal 4 orang. Pemainnya berdiri melingkar dan bergandengan tangan. Ada salah satu pemain yang berdiri di tengah-tengah. Biasanya orang yang jadi (masang). Para pemain berputar sambil menyanyikan lagu jamuran.
Kemudian yang berada ditengah / yang jadi meminta. Misalnya meminta jamur kethek menek. Semua pemain harus memanjat. Berarti dia yang jadi (masang).

2.Bekelan
Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang, yang satu sebagai lawan mainnya. Permainan ini dilakukan secara bergantian. Apabila satu pemain kalah, pemain yang satu yang memainkan begitu seterusnya. Alatnya berupa bola bekel dan empat buah batu kerikil. Cara bermainnya, bola bekel dilempar ke atas dengan pelan. Kemudian mengambil batu yang berada di bawah. Lalu kembali menangkap bola yang melambung tadi, sebelum bola jatuh ke tanah. Pertama, ambil batunya satu persatu, lalu dua per dua, lalu 3, lalu 4, begitu seterusnya.

3.Dakon
Permainan ini tidak hanya sering dilakukan oleh masyarakat. Namun permainan ini juga dilakukan oleh puteri raja dalam keraton Dalam keraton biasanya menggunakan kecik (biji sawo). Selain biji sawo juga bisa menggunakan kerikil. Setiap lingkaran diberi kerikil 5 buah. Kecuali lingkaran yang berada disamping. Lingkaran itu dibiarkan kosong karena untuk menempatkan hasilnya. Permainan ini dimainkan oleh dua orang secara bergantian.

4.Bedelikan
Permainan ini biasanya dilakukan oleh 5-7 orang atau lebih. Biasanya dilakukan pada siang hari atau juga sore hari. Pemain yang jaga biasanya pemain yang kalah pinsut. Pemain yang jaga menutup matanya lalu menghitung dari 1 sampai 10. pemain yang lain bersembunyi ditempat yang kira-kira dianggapnya aman dan tidak diketahui oleh yang jaga. Pemain yang bisa ditemukan oleh pemain yang jaga berkumpul lalu pinsut dan yang kalah pinsut menjadi yang jaga. Di daerah Boyolali permainan ini sering disebut ambbellan atau delikan.

5.Sudamanda (engklek)
Di daerah Boyolali permainan ini sering disebut Brok. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 3-5 orang. Permainan ini menggunakan gancu (pecahan genting). Permainan ini dimainkan sesuai dengan bidangnya. Pemain melempar gancu kedalam kotakan bidang. Lalu pemain berjalan menggunakan satu kaki atau engklek. Pemain deprok apabila berada di tempat yang dianjurkan untuk deprok. Pemain kembali engklek kemudian mengambil gancu. Ulangi permainan tersebut sampai akhir. Setelah gancu berhasil menempati semua kotakan, lalu pemain berjalan dengan mata tertutup untuk mencari gancunya sendiri. Apabila pada saat berjalan pemain menginjak garis, berarti permainan diulangi lagi setelah temannya bermain. Setelah gancunya berhasil didapatkan, pemain membelakangi bidang kemudian melempar gancu tersebut ke bidang. Setelah dapat, maka pemain mendapatkan tempat untuk deprok dan tempat itu tidak bisa dijamah oleh pemain lainnya.

6.Apolo
Di daerah Boyolali permainan ini sering disebut Boinan. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 3-5 orang atau lebih. Permainan ini menggunakan pecahan genting yang ditumpuk-tumpuk. Kemudian para pemain melemparnya dengan menggunakan bola kasti. Pemain dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang menang dan kelompok yang jaga. Apabila salah satu pemain dari kelompok yang menang berhasil merobohkan tumpukan genteng pemain yang menang berlari, lalu pemain yang kalah berusaha melempar bola tersebut ke pemain yang menang sambil menata tumpukan genteng. Apabila genteng berhasil ditumpuk, maka kelompok pemain yang menang menjadi kalah.

7.Bentik
Permainan ini biasanya dilakukan oleh 5 orang atau lebih. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok jaga dan kelompok main. Permainan ini menggunakan bambu/bilah. Yang satu panjang dan yang satu pendek. Memainkanya, bambu yang pendek ditempatkan ditanah yang sudah dilubangi dengan arah melintang menyerupai jembatan. Lalu bambu yang panjang dimasukan dalam lubang dan mengangkat bamboo yang kecil sehingga melambung. Pemain yang jaga menangkap bambu tersebut.
Apabila tertangkap mendapatkan poin. Lalu bambu yang panjang ditaruh diatas tanah yang berlubang tadi. Apabila berhasil mengenai bambu yang panjang maka pemain yang main menjadi kalah dan bergantian menjadi jaga.

8.Cublak-cublak suweng
Dimainkan oleh beberapa orang. Ada satu yang tengkurap. Sedangkan yang lain meletakan tangannya diatas punggung orang yang tengkurap tadi. Sambil menyanyikan lagu cublak-cublak suweng ada seorang anak yang membawa kerikil kemudian diletakkan secara berurutan sampai lagu selesai. Setelah selesai kerikil itu ada digenggaman salah seorang anak dan yang tengkurap menjawab siapa yang membawa kerikil itu. Bila benar, si pembawa kerikil akan jaga. Jika salah, dia tetap jaga.

9.Pak tepong
Dimainkan oleh beberapa orang. Sebelumnya dibuat garis sebagai batas pelempar dan beberapa meter didepannya dibuat lingkaran. Setiap pemain melemparkan gacuknya ke dalam lingkaran. Bagi yang gacuknya diluar lingkaran dan paling jauh, dia harus jaga. Si penjaga menata gacuk. Ke atas kemudian ia harus menutup matanya. Saat dia menutup mata, teman-temannya bersembunyi. Dia harus mencari kawannya. Bila dia melihat temannya, dia harus memegang kacuk dan berkata pak tepong. Namun kawannya juga bisa menendang gacuk-gacuk itu. Saat itulah kawan-kawan lain bisa bersembunyi lagi sementara penjaga menata kembali gacuk-gacuk itu. Yang digunakan sebagai gacuk biasanya adalah serpihan genting dan kaca.

10.Betengan
Dimainkan oleh beberapa orang. Cara bermainnya yaitu ada dua buah pohon yang letaknya berseberangan. Tiap pohon dihuni oleh beberapa orang. Caranya yaitu perkelompok berusaha untuk memegang kelompok lawan. Namun dalam usahanya it dihalang-halangi oleh pemilik pohon. Bila lawan ada yang dipegang pemilik maka lawan itu menjadi milik pemilik. Dan jika bisa memegang pohon lawan maka ia menjadi pemenang. Benda yang dibutuhkan yaitu dua buah pohon.

11.Bat engklek
Dimainkan lebih dari satu orang. Ada dua macam batengklek yaitu batengklek biasa dan montor mabur. Bathengklek biasa berbentuk segiempat yang dibagi-bagi sedangkan montor mabur berbentuk pesawat terbang. Cara bermainnya sama, gacuk dilempar sesuai urutan kemudian pemilik engklek pada kotak-kotak yang ditentukan. Jika semuanya sudah selesai, pemilik akan mendapatkan sawah jika lemparan gacuk masuk pada kotak-kotak tadi. Alat : gacuk (serpihan genting, kaca, uang).

12. Mbar Suru
Mbar suru adalah permainan rakyat yang ada di daerah eks karisidenan Surakarta khususnya di daerah Boyolali. Permainannya adalah dengan biji Flamboyan atau Asam, disebar di lantai, tidak boleh melewati garis ubin, kemudian diserok dengan kertas atau plastik yg dijepitkan di antara jemari. Ketika menyerok 2 biji yg berdempetan, tidak boleh menyentuh biji yg tidak diserok. Jika menyentuh, artinya harus berganti pemain. Permainan ini diawali dengan masing-masing pemain menyertakan 'modal' biji, misalnya 5 atau 10 dan pada akhir permainan, dihitung siapa yg lebih untung.

13.Ancak-ancak Alis
Jenis permainan tradisional anak-anak yang ada di daerah sekitar eks karisidenan Surakarta ini, dalam proses permainannya menggunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan pertanian. Ketentuan jumlah pemain dalam permainan ini tidak ada, semakin banyak anak-anak yang terlibat dalam permainan ini akan semakin meriah. Tempat permainannya biasanya dipilih yang luas dan rata.
Cara bermainnya yaitu pertama-tama semua pemain bersepakat untuk memilih dua orang yang diantara mereka cenderung memiliki kekuatan, ketinggian, dan besar badan yang sama untuk menjadi petani. Kemudian petani ini segera menyingkir dari kelompok permainan untuk berunding mengenai nama-nama yang diambil dari istilah pertanian, misalnya A memilih nama jagung dan B memilih nama kacang. Kemudian kedua petani berdiri berhadapan dengan kedua tangan diangkat keatas dan mereka saling menepuk tangan sambil menyanyikan ancak-ancak alis. Masing-masing lagu ini di daerah Jawa ada perbedaan antara daerah yang satu dengan yang lainnya.(cia pbsj unnes 2007;r4)


(Oleh: Kelompok 2 Penelitian Foklor eks Karesidenan Surakarta, Dosen: Sukadaryanto;Rombel 4 Chafid dkk; PBSJ-BSJ-FBS-UNNES Universitas Negeri Semarang)
Share:

Legenda Pengging



Pengging adalah sebuah desa yang terletak di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, tapi sekarang Pengging lebih dikenal oleh masyarakat mencakup 3 Kelurahan yaitu Bendan, Dukuh dan Jembungan. Dengan peninggalan yang tersisa adalah Pemandian Umbul Pengging ,Umbul Sungsang dan Makam Pujangga Yosodipuro.
Pengging juga mempunyai ritual sebaran apem untuk memperingati bulan Sapar, tradisi ini sudah ada sejak jaman R. Ng Yosodipuro. Hal ini dimulai karena pengaruh R. Ng Yosodipura yang berjasa dalam membawa rakyat Pengging dalam meningkatkan hasil pertanian dan mengusir hama. Acara ini sering bertepatan dengan acara Pengging Fair yaitu pesta rakyat dan budaza Pengging yang dilaksanakan mendekati bulan Agustus. Acara ini berlangsung selama seminggu dengan puncak acaranya adalah hari terakhir perayaan ini. Namun beberapa hari sebelumnya di sepanjang jalan Pengging sudah ramai dengan pedagang-pedagang, mulai penjual makanan sampai pakaian tidak hanya pedagang lokal tapi juga dari luar daerah. Acara tersebut tidak hanya diikuti oleh masyarakat Pengging dan sekitarnya tapi juga dikunjungi oleh masyarakat luar Pengging misalnya dari Boyolali, Surakarta, Klaten bahkan luar karisidenan Surakarta.
Pesta rakyat dan budaya Pengging merupakan acara memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia namun karena suatu hal maka sering dilaksanakan sebagai pesta budaya sekaligus memperingati jasa R Ng Yosodipuro dalam bentuk ritual atau upacara tradisi apeman, acara ini mulai diselenggarakan tahun 1967 dan diadakan secara rutin setiap tahun. Pada awalnya dilangsungkan dengan sederhana dan hanya menampilkan satu panggung hiburan. Seiring bertambahnya waktu acara tradisi ini berjalan semakin maju dan semarak dengan berbagai jenis kegiatan dan hiburan. Dengan demikian pengunjung yang datang semakin bertambah banyak dan Pegging menjadi terkenal dengan Obyek Wisata Pemandian Umbul Pengging dan Makam Pujangga Yosodipuro saja namun juga dengan kegiatan tradisi tahunan tersebut.
R. Ng Yosodipuro ádalah seorang Pujangga sekaligus ulama yang menyebarkan agama Islam hidup pada masa pemerintahan Pakubuwono II dikenal sangat dekat dengan kaum petani, karena kearifannya seringkali rakyat Pengging memohon petunjuk termasuk pada saat petani meminta bantuannya untuk mengatasi serangan hama keong mas. Atas petunjuk R. Ng Yosodipuro para petani mengambil keong mas tersebut kemudian dimasak dengan cara dikukus. Sebelumnya keong tersebut dibalut dengan janus yang dibentuk seperti keong mas. Setiap kali panen padi janur bekas balutan keong mas tersbut digunakan untuk membuat apem kukus. Apem kukus itu kemudian dibagi-bagikan pada petani sebagi wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diberikan dan juga berkurangnya hama keong. Tradisi bagi-bagi apem akhirnya terus berkembang hingga berjalan sampai sekarang. Bagi masyarakat yang percaya jika berhasil mendapatkan apem maka diyakini akan mendatangkan berkat.
Berebut kue apem kukus keong mas dalam acara Saparan di Pengging, kecamata Banyudono, Boyolali sudah merupakan tradisi yang tak mudah untuk ditinggalkan oleh masyarakatnya. Masing-masing RT mengirimkan apem sebanyak 200 buah kemudian dikumpulkan di kantor kecamatan. Acra Saparan dilaksanakan tepat di perempatan depan Masjid Cipto Mulyo, kompleks wisata Umbul Pengging. Malam sebelumnya diadakan prosesi melakukan doa dan tahlil di Masjid Cipto Mulyo dan dilanjutkan ziarah di makam R. Ng Yosodipuro kemudian dilanjutkan dengan upacar kenduri serta Sanggaran.
Selanjutnya ritual diawali dengan kirab budaya dan arak-arakan dua buah gunungan apem serta berbagi macam kesenian daerah setempat. Dimulai di depan kantor kecamatan Banyudono menuju halaman Masjid Cipto Mulyo. Acara ini dihadari oleh pejabat daerah setempat, trah dari R. Ng Yosodipuro serta kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat.
1.Acara-acara untuk memeriahkan tradisi ini antara lain:
Pentas seni dan budaya
Diadakan disepanjang Jalan Pasar Pengging, acara dimulai dengan pemotongan pita oleh Bupati Boyolali. Kemudian acara karnaval oleh murid TK dan SD , drum band, Reog dan Barongsai. Iring-iringan ini dimulai dari kantor kecamatan Banyudono sampai di depan Obyek Wisata Umbul Pengging. Malamnya dilanjutkan dengan hiburan kesenian, terdapat lima panggung kesenian yaitu: panggung band rock, anak-anak, orkes melayu (dangdut), campursari, dan Wayang kulit dengan lokasi yang sudah dipersiapkan
Suasana meriah dan ramai dirasakan sejak sore hari, berlanjut hingga tengah malam apalagi pertunjukan wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk. Dapat terlihat disini semua jenis kesenian baik modern maupun tradisional dapat berjalan bersama. Sehingga secara tidak langsung acara ini juga dijadikan sebagai sarana promosi dan melestarikan kebudayaan daerah. Pertunjukan wayang kulit dimainkan oleh dalang dari Pengging sendiri karena Pengging mempunyai banyak dalang misalnya : Ki Wardono, Ki Gondo Sawi, Ki Gondo Tomo, Ki Gondo Wajiran, Ki Sabdo Carito, dalang muda Ki Nyoman dan kadang kadang mengundang dalang terkenal seperti Ki Anom Suroto dan Warseno Slank diiringi waranggana lokal misalnya Nyimut, Suparsih, Wayan, Suji diselingi lawak Gogon yang asli Pengging dan bahkan pelawak Srimulat turut serta menyemarakkan acara ini. Hal ini mendorong lahirnya seniman - seniman muda dari Pengging selain itu sanggar karawitan dan tari tradisioanal dibuka di Pengging.
Diharapkan dengan diadakannya acara ini mendorong semangat generasi muda untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan serta memajukan daerahnya tidak hanya melalui kekayaan alam namun juga dengan kesenian, kebudayan dan peninggalan sejarah.
Share:

Gedhang Raja lan Adat Istiadat



Gedhang raja (Musa Paradisiaca) wis dikenal rikala jaman mbah buyut dhisik. Gedhang raja sawangane pancen alus, lumer sarta nengsemake. Kejaba wujud lan wernane nyenengake, rasane biyuh-biyuh seger, legi, arum. Gedhang jarwa dhosoke... digeget bubar madhang. Pranyata wujud lan ulese pancen ndemenake, saengga digandrungi masyarakat sadonya. Kejaba aroma lan rasane gawe kemecer ngiler, uga gedhang raja entuk sebutan ‘Paradise Banan’ (buah surga) utawa buah nirwana.

Wektu iki gedhang raja kena diarani produk ekspor kang paling istimewa, kabukten sing padha pesen saka njaban rrangkah kayata Jepang, China, Korea lumebere tumeka Bawono Eropa lan Australia. Mula akeh warga masyarakat ing Indonesia padha ngulir budi anggone ngrembakaake gedhang raja mau. Kejaba gedhang raja regane larang, pancen kanggo kebutuhan adat.

Uwal saka babagan gedhang komersial, wangune ing wewengkon Kraton Sumenep Madura, gedhang raja minangka simbul adat perkawinan kraton. Pancen adat –stiadat pernikahan jroning kraton, tansah diuri-uri aja nganti kasilep majune jaman. Senajan saiki wis mlebu era gobalisasi, nanging ing laladan kraton isih nggeget kenceng adat pernikahan mawa gedhang raja.

Sejatine yen kita tintingi kanthi premati, gedhang raja uga dibutuhake dening kraton Mataram, saengga kraton Surakarta lan Yogyakarta uga ora ninggalake kebutuhan mau. Kejaba kaggo pajangan, pasang tarub, jejeran, sajen, kendurenan lan akeh maneh liyane, uga kanggo hiasan ing rumah makan ing ngendi wae. Gedhang raja mujudake gedhang adat minangka warisan nenek moyang jaman dhisik.



(Panjebar Semangat 22/2009).

Share:

Kumbakarna Gugur


Kumbakarna ditimbali dening Prabu Dasamuka kinen madeg senapati ngrabaseng prajurit Pancawati, andhahane Prabu Rama. Rangu-rangu atine awit dheweke ngerti jalarane Prabu Ramawijaya ngebroi Ngalengka. Ora liya amarga srakahe Prabu Dasamukangrebut garwane Prabu Rama, ya Dewi Sinta. Tumindake pun kakang pancen nalisir saka bebener. Ananging menawa ngelingi bumi Ngalengka, bumi wutah getihe sing bosah-baseh uga para kawula sing nandhang sengsara dadi kurban paprangan, tuwuh tekad sing mkantar-kantar jroning wardaya kanggo bela negarane.

Dewi Kiswani, garwane Kumbakarna ora kuwawa ngumpet tumetesing waspa nalika dipamiti lan diutus nyepakake ageman warna seta.

“kakngmas, kula sampun kecalan anak-anak kula Kumbawaswani tuwin Kumba-Kumba. Kula boten purun kecalan paduka, Kangmas!” ature kebak sungkawa marang Raden Kumbakarna.

“Yayi, pati urip iku ing astane Kang Akarya Jagad, yen pun kakang tiwas ing rananggana. Ateges iku pepesthen kang ora bisa diselaki. Ananging yen kakang selak saka jejibahan iki marang bumi Ngalengka sing wis menehi panguripan? Mula sanadyan nganti oncating nyawa tetep kudu dakbelani!”

Sawise krungu ngendikane garwane iku Dewi Kiswani tinarbuka atine lan ngutabake kanthi lega lila.

Bala wanara prajurite Prabu Rama kuwalahan nampani tandange Kumbakarna kang ngedab-edabi. Sanadyang mangkono ora padha gisrig, saya akeh sing ngrubut. Ana sing nyathek, nyokot mlah uga mancat ngrangsang sirah. Kurban saya akeh, nganti keprungu bendhe tinabuh aweh tetenger supaya padha mundur. Sawijining satriya marani Raden Kumbakarna.

“Yayi Wibisana!” pambengoke Kumbakarna bareng ngerti satriya iku jebul rayine.

“Kakang” kakang adhi iku rerangkulan kebak rasa sedhih. Wibisana tinudhung dening Dasamuka sesawise babaregan karo Kumbakarna elik-elik supaya ora meruhi tumindak angkara murkane kaknge sing saya ngambra-ambra. Ora dinyana kepethuk ing madyaning palagan.

“Sangertos kula kakang Kumbakarna tansah mbelani dhareng kautaman. Kenging menapa sakpunika kakang madeg dados senapati mbelani Prabu Dasamuka ingkang ateges mbelani kamurkan?” ature Wibisana.

“Dadi kaya ngono pangiramu marang pun kakang? Aku maju ing palagan iki amarga nglungguhi darmaning satriya kang kudu bela negara. Perkara tumindake Prabu Dasamuka iku dudu tanggung jawabku. Nanging rusake negara ngalengka, aku ora bisa nrimakake!” Wibisana ndheprok nyuwun pangapura awit wis duwe pandakwa ala.

“Wis.. wis dhi ora dadi apa. Lha kowe dhewe kok ana kene larahe kepriye?” pitakone kumbakarna. Wibisana nyritakake yen sawise ditudhung Dasamuka banjur nyuwita marang Prabu Rama.

“Boten ateges kula cidra dhateng nagari Ngalengka, kakang. Nanging kula kedah netepi darmaning satriya ingkang tansah mbela dhateng sinten ingkang leres!” ature Wibisana. Kakarone krasa nggrentes atine kudu adhep-adhepan minangka mungsuh.

“Jagad Dewa Bathara wis dadi garising Jawata kita kudu kaya ngene. Kowe ora luput, Dhi! Antepana dharmamu kaya dene aku netepi dharmaku! Aturana supaya ngayunake yudaku, kareben perkerene enggal rampung!” wibisana nyawang kakange kanthi trenyuh, atur sembah nuli mungkur.

Kumbakarna klakon adhep-adhepan karo Prabu Rama. Durung kober senapati Ngalengka iku ngrangsek, kedhisiksan panahe Rama wola-wali mutung tangane banjur siskile. Saengga kari sirah lan gembung. Ewa semana ora luntur tekade Kumbakarna gawe pepati seakeh-akehe. Dumadakan sanjatane Prabu Rama panah Gunawijaya, ngrampungi krodhane Kumbakarna. Kumbakarna gugur.


(Panjebar Semangat 16/2005)







-Lampiran 2: Contoh Teks bacaan nonsastra dengan tema budaya dengan judul “Gedhang Raja lan Adat-Istidat”.



Gedhang Raja lan Adat Istiadat


Gedhang raja (Musa Paradisiaca) wis dikenal rikala jaman mbah buyut dhisik. Gedhang raja sawangane pancen alus, lumer sarta nengsemake. Kejaba wujud lan wernane nyenengake, rasane biyuh-biyuh seger, legi, arum. Gedhang jarwa dhosoke... digeget bubar madhang. Pranyata wujud lan ulese pancen ndemenake, saengga digandrungi masyarakat sadonya. Kejaba aroma lan rasane gawe kemecer ngiler, uga gedhang raja entuk sebutan ‘Paradise Banan’ (buah surga) utawa buah nirwana.

Wektu iki gedhang raja kena diarani produk ekspor kang paling istimewa, kabukten sing padha pesen saka njaban rrangkah kayata Jepang, China, Korea lumebere tumeka Bawono Eropa lan Australia. Mula akeh warga masyarakat ing Indonesia padha ngulir budi anggone ngrembakaake gedhang raja mau. Kejaba gedhang raja regane larang, pancen kanggo kebutuhan adat.

Uwal saka babagan gedhang komersial, wangune ing wewengkon Kraton Sumenep Madura, gedhang raja minangka simbul adat perkawinan kraton. Pancen adat –stiadat pernikahan jroning kraton, tansah diuri-uri aja nganti kasilep majune jaman. Senajan saiki wis mlebu era gobalisasi, nanging ing laladan kraton isih nggeget kenceng adat pernikahan mawa gedhang raja.

Sejatine yen kita tintingi kanthi premati, gedhang raja uga dibutuhake dening kraton Mataram, saengga kraton Surakarta lan Yogyakarta uga ora ninggalake kebutuhan mau. Kejaba kaggo pajangan, pasang tarub, jejeran, sajen, kendurenan lan akeh maneh liyane, uga kanggo hiasan ing rumah makan ing ngendi wae. Gedhang raja mujudake gedhang adat minangka warisan nenek moyang jaman dhisik.



(Panjebar Semangat 22/2009).

Share:

Thursday, 11 June 2009

Sinau Aksara Jawa

The Javanese alphabet (Aksara Jawa)

Aksara consonants (Aksara Konsonan)

Consonants

Pasangan consonants (Pasangan Konsonan)

Capital consonants

Aksara murda consonants (Aksara Murda Konsonan)

Capital consonants

Numerals (Angka Jawa)

Javanese numerals

Sample text in the Javanese alphabet (Lord's Prayer) (Contoh Mudahnya)

Javanese sample text

Transliteration (Terjemahan)

Rama kahula hīkā wonten 'ī swarga. wasta sampeyan dadossa subši. sadžaman sampeyan rawuḥha. kars sampeyan dadossa 'ī bumi kados 'ī swarga. redžekki kahula kā saintendinten sukanni dinten puniki marī kahula. hambi puntan marī kahula dosa kahula, kados kahula puntan marī satungiltūgil titiyū kā salaḥ marī kahula. hambi sampun bekta kahula 'ī pertšoban. tapi tšutšullken kahula bari pada sā ṅawon, sabab sadžaman hambi kawasa sarta kamukten gusti kagū ṅannipun dumugi 'ī ṅawet. Amin

(sumber: http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/aksara_jawa.htm)

Share:

Tuesday, 9 June 2009

UKM-KJ Unnes akan Digusur....;Matinya Kesenian Jawa


Kabar tentang akan digusurnya UKM KJ Unnes membuat resah, marah, geger, bingung, biasa aja, dan banyak juga yang sedih (yen aku terus terang jengkel, tapi ya biasa bae lah).
3 Juni 2009 di depan UKM KJ Unnes dipasang bendera setengah tiang dengan diberi aksesoris seonggok jenasah jadi-jadian yang dibungkus kain kafan ples kain batik, juga dikibarkan bendera kuning sebagai pertanda berita duka (nang apa ya ora bendera warna abang bae -sebagai tanda bahwa kita tidak setuju (bila) digusur). Sebelumnya dilakukan upacara peringatan "Kematian Kesenian Jawa" Tengah Malam sekitar jam 24.00 wib.
Singkatnya, Belum jelas nasib UKM-KJ Unnes kedepan. Kami minta kebijaksanaan dari yang "berwenang" untuk menindaklanjuti peristiwa ini. Jangan sampai hanya demi kepentingan segelintir orang atau manusia (atau yang lain juga boleh), kelompok, dll. Kalupun UKM-KJ akan dipindah kami minta tempat yang layak (luas, ber-ac -ben kaya ruang kuliah2, masa masange AC pas arep digusur thok?!-, ana kulkase barang -pengine-,dll). terakhir semoga yang mendzalimi mendapat ..... (terserah mau di isi apa).

dengan sedikit tulisan (sing elek iki) saya menyatakan sikap saya, matur nuwun
Share:

Serat Wedhatama


Serat Wedhatama sebagai Sastra Piwulang: Wahana Pendidikan Moral

Para pengarang sastra Jawa, khususnya yang hidup pada zaman kebangkitan mataram baru di Surakarta telah banyak melahirkan karya-karya yang bersumber pada keselarasan hidup antara manusia dan alamnya. Para pujangga yang namanya begitu masyhur sebagai pekerja kreatif seperti Susuhunan Pakubuana IV, Yasadipura I, Yasadipura II, Raden Ngabehi Ranggawarsita, dan KGPA Mangkunegara IV, telah mampumembawa perubahan besar pada peta kesusastraan Jawa abad itu, bahkan melalui karya mereka telah terciptalah suatu garis anutan pendidikan moral.

Sebagai hasil karya seorang pujangga, kehadiran sastra piwulang tidak pernah lepas dari fungsi penyaluran ide pribadi pengarangnya, dan bagi masyarakat pembaca karya sastra secara tidak langsung juga merupakan tawaran ide yang setiap saat akan mempengaruhi pola tingkah laku mereka. Karya sastra selain berfungsi sebagai penghibur juga dalam kasus- kasus tertentu dapat berperan aktif memberi tuntunan bagi keselarasan hidup manusia pada umumnya.

Dalam khasanah sastra Jawa yang telah berkembang jauh sejak zaman Hindu, selain dalam penceritaan suatu kisah tertentu, dikenal pula teks-teks didaktik moralistik. Ciri teks ini banyak diwarnai dengan deskripsi tata tingkah laku pergaulan sehari-hari dalam hidup bermasyarakat. Karya sastra didaktik dalam masyarakat Jawa merupakan sastra piwulang yang memberi tuntunan bagi pendidikan moral dan budi pekerti yang sebaiknya dilakukan oleh manusia berbudaya. Pada umumnya yang disebut sastra piwulang dalam tradisi kesusastraan Jawa adalah teks didiktik berbahasa Jawa yang ditulis oleh raja atau pujangga istana untuk dijadikan dasar pembentukan watak dan perilaku kerabat istana. ( Yusro Edi Nugroho, “Senarai Puisi Jawa Klasik” (Semarang: Penerbit Cipta Prima Nusantara, 2008)).

Serat wedhatama yang secara semantik terdiri dari tiga suku kata, yaitu: serat, wedha, dan tama. Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, Wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan Tama berasal dari kata Utama yang artinya baik, tinggi, atau luhur. Dengan demikian maka Serat Wedhatama memiliki pengertian sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan umat manusia. ( Yusro Edi Nugroho, “ Puisi Jawa Klasik” (Semarang: Studioduabelas, 2006)).

Serat Wedhatama pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis. Majalah Djawa pernah mengadakan lomba untuk menterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Pemenangnya pada saat itu adalah Zoetmulder. ( S. Margana, “Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)).

Serat Wedhatama sebagai karya sastra piwulang atau sebagai wahana pendidikan moral, karena dalam Serat Wedhatama terkandung ajaran tentang pendidikan budi pekerti yang luhur. Sehingga dapat menjadi tuntunan hidup bagi masyarakat, ajaran yang terkandung dalam Serat Wedhatama tidak hanya ditujukan bagi masyarakat jawa saja, meskipun awalnya bertujuan untuk pembentukan watak dan perilaku kerabat istana dan masyarakatnya yaitu masyarakat Jawa. Tetapi juga dapat dijadikan wahana pendidikan moral bagi masyarakat bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia, hal ini dikarenakan ajaran yang terkandung dalam Serat Wedhatama yang memiliki sifat universal.

Serat Wedhatama selain mengandung ajaran budi pekerti yang luhur didalamnya juga terkandung ajaran yang oleh beberapa penulis seperti Soebandi dan Simuh bersifat mistik dean ajaran tasawuf. ( S. Margana, “Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)).

Share:

Thursday, 16 April 2009

Ndah, niki pidato bhs Jawane...



TANGGAP WACANA
PEPISAHAN SAKING WAKIL MURID
Assalamu’alaikum wr wb
Alhamdulillahirobbil’aalamin, wabihii nasta’iinu ‘alaa umuurid dun-ya wad diin. Was shalaatu was salaamu ‘alaa sayyidil mursaliin. Sayyidinaa wa maulaana muhammadin wa’alaa ‘aalihiiwa sahbihi ajma’iin amma ba’du.
Bapak kepala sekolah ingkang dahat kula kurmati, Bapak/Ibu Guru ingkang dahat kinurmatan. Rencang saha adhik-adhik ingkang kula tresnani.
Puja-puji syukur dhumateng Gusti ingkang Mahaagung, ingkang sampun angluberaken rahmat sarta hidayah. Dene kula panjenengan sami saged makempal wonten ing......(diisi tempat dimana dilaksanakan acara)...kangge ngawontenaken pepisahan.
Bapak/Ibu Guru ingkang dahat kinurmatan. Boten kantun kula minangka wakilipun putra-putri siswa kelas 6, ngaturaken agunging panuwun ingkang tanpa upami awit keikhlasan saha sih katresnan Bapak/Ibu Guru anggenipun nggulawenthah dhumateng para siswa.
Saengga saged ngrampungaken kewajiban ingkang sampun kalampahan sadangunipun.....(diisi berapa tahun)..tahun, kanthi pikantuk Serat Tandha Tamat Belajar.
Sadangunipun...(diisi berapa tahun lama sekolah)..tahun, kula ngangsu kawruh wonten ing pawiyatan...(diisi nama sekolah)..wonten ing panggulawenthahipun, ngantos wonten pangiketing batin saengga karengkuh putra-putri piyambak.
Bapak/Ibu Guru tuwin adhik-adhik ingkang satuhu kula kurmati saha kula tresnani. Sakedhap malih kula sarencang ninggalaken pawiyatan menika. Awrat anggen kula matur kados pundi raosipun nilar Bapak/Ibu saha adhik-adhik. Jaragan kawontenan kedah mekaten, pramila kapeksa kula kaliyan rencang-rencang nilaraken Bapak/Ibu saha adhik-adhik kelas. Sanadyan sampun pepisahan ingkang ateges tinebih ing netra, mawantu-wantu kula tansah nyenyuwun supados taksih celak ing panggalih.
Pawiyatan ingkang sampun matahun-matahun sampun tansah cecaketan kaliyan kula. Kula sarencang rumaos cuwa penggalih, badhe nilaraken pawiyatan menika. Kajarag kahanan saha kersaning Gusti. Panci wonten pepanggihan tamtu badhe wonten pepisahan. Menika kados sampun kinodrat boten kenging dipunewahi malih.
Kula sarencang kelas 6 ingkang badhe nilaraken pawiyatan menika tansah nyenyuwun lan ndedonga adhik-adhik sageda kasil anggenipun ngangsu kawruh wonten ing pawiyatan menika. Kula minangka wakilipun rencang kelas 6, tansah nyuwun gungan, mugi-mugi adhik-adhik sregep anggenipun sinau lan tansah ngaosi dhumateng Bapak Ibu Guru.
Boten kantun ugi kula dalah rencang kelas 6 tansah memuji dhumateng Gusti ingkang akarya jagad, supados Bapak/Ibu Guru saha adhik-adhik tansah pikantuk rohmating Gusti Allah Swt wilujeng boten wonten alangan punapa.
Kula kinten boten prayogi menawi atur pamitan menika kula pepanjang. Kula namung tansah nyuwun tambahing donga pangestu saking Bapak/Ibu Guru saha adhik-adhik. Sageda wilujeng saksampunipun medal saking pawiyatan menika lan sageda pikantuk SMP kangge ngangsu kawruh ngilmu ingkang langkung inggil.
Kula minangka wakil kelas 6 tansah nyuwun agunging panuwun ingkang tanpa upami. Semanten atur kula mbok bilih wonten kekiranganipun anggen kula matur, kula nyuwun agunging samudra pangaksami.
Akhirul kalam billahit taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Share:

Friday, 6 February 2009

Novel Singkar

Singkar

Novel abasa Jawa anggitane Siti Aminah iki ukurane 19,6 cm x 13,8 cm x 0,8 cm, kandele 134 kaca, lan kaperang dadi 24 bab.

Samak ngarep buku iki luwih dikuwasani werna kuning, lan ana gambar separo raine wong wadon sing dumunung ing perangan sisih kiwa buku. Ing kene uga bisa ditemoni tulisan irah-irahan buku sing wernane abang kang cinithak timbul, ngisore irah-irahan katulis arane panganggit. Samak ngarep uga ana sithik werna ijo sing dumunung ing sisih kiwa ngisor. Ing sisih dhuwur tinulis pambabar buku yaiku Griya Jawi.

Samak buri di kuwasani werna ijo. Ana foto wong wadon nganngo kacamata ing sisih tengen samak buri. Wong wadon kuwi yaiku Siti Aminah, pengarang novel Singkar. Teks-teks cilik sing warnane kuning meh ngebaki samak buri novel. Saliyane ing sisih kiwa foto pengarang lan ing ngisor teks putih sing katulis Siti Aminah, teks kuning kasebut uga ana ing ngisor samak buri novel.

Teks kuning sing ana ing sisih kiwa foto mujudake profil pengarang, dene teks sing ana ing ngisor mujudake pethikan isi novel. Ing kono uga dijlentrehake ngenani alasane panganggit nggawe novel iki yaiku kanggo melu nglestarekake basa lan sastra Jawa. Saliyane kuwi uga tinulis yen cerkak lan opini gaweane panulis tau kababar ing kalawarti abasa Jawa yaiku Jayabaya, Panjebar Semangat, Djaka Lodhang, lan harian Suara Merdeka.

Karyane Siti Aminah uga tau kababar ing kalawarti abasa Indonesia kaya dene Jawa Pos, Kompas, Kawanku, lan panerbitan internal lembaga-lembaga ing Yogyakarta. Iang samak buri dikatutake alamat e-mail panulis. Ing perangan ngisore dumunung gambar samak ngarep tanpa seratan kang ukurane cilik lan sisih tengene dumunung seratan Singkar. Pojok kiwa ngisor dumunung kode ISBN, lan alamat jangkep pambabar novel Singkar.

Singkar mujudake novel abasa Jawa babagan jejodohan. Paraga novel iki ing antarane Nani, Narumi (ibune Nani), Kurniawan, Sipon (ibune Narumi), Alsa, lan Samhadi. Narumi njodohake Nani karo Kurniawan, nanging Nani ora gelem merga dheweke wis nganggep Kurniawan iku mase dhewe.

Nani tresnane karo Nusa, wong lanang sing ora disenengi wong tuane. Alesane Narumi yaiku dheweke ora kepengin Nani uripe mlarat yen jejodohan karo Nusa, wong ora cetha pagaweane. dheweke kepengin yen Nani jejodohan karo Suleman, wong sugih saka kutha.






Share:

ContohTanggap Wacana Pengetan Dinten Kartini

TANGGAP WACANA PENGETAN DINTEN KARTINI


Assalamu’alaikum wr wb

Ibu-ibu, sedherek-sedherek ingkang satuhu kinurmatan. Saderengipun, mangga kita sesarengan muju syukur ing pangarsanipun Gusti Ingkang Akarya Jagad Gusti Allah SWT, awit sih nugraha ingkang kaparingaken dhumateng kita sadaya, katitik ing siang menika, kita sadaya saged sesarengan makempal ing papan panggenan punika kanthi raharja boten kirang setunggal punapa.

Salajengipun, kula atas nami ketua penyelenggara ngaturaken agenging panuwun dhumateng para rawuh ingkang sampung nglonggaraken wekdal kersa ngrawuhi undangan ingkang sampun lumantar dhumateng panjenengan. Saged ngrawuhi pawiwahan pengetan dinten kartini.

Para rawuh ingkang kinurmatan,

Kados sampun kita sadaya mangertosi, bilih Raden Ajeng Kartini miyos ing tanggal 28 Rabiulakir taun 1806 utawi 21 April 1879 Masehi ing dhusun Mayong, Kabupaten Jepara. Raden Ajeng Kartini menika satunggaling putri saking kulawarga Bupati Jepara. Pramila ing tanggal 21 April punika kita pengeti menika dinten lahiripun Raden Ajeng Kartini. Kangge mengeti perjuanganipun Raden Ajeng Kartini ingkang sampun ngangkat drajadipun wanita Indonesia ngantos saged sami kaliyang drajading priya.

Rikala sugenging Raden Ajeng Kartini, para wanita bangsa Indonesia tansah wonten ing pingitan. Para wanita mboten dipun keparengaken sekolah. Ugi mboten dipun keparengaken gadhah padamelan ingkang sami kaliyan padamelanipun priya. Ananging sapunika, para wanita sampun sami drajadipun kaliyan para priya.

Babagan punika pranyata saestu saged dipun tingali. Sapunika sampun kathah para wanita ingkang hanglenggahi jabatan penting dados ketua-ketua utawi pemimpin-pemimpin, ngantos dados menteri utawi presiden, kados panjenenganipun Ibu Megawati Sukarnoputri ingkang jumeneng dados presiden ingkang kaping gangsal.

Para rawuh ingkang minulya,

Ing salebetipun mengeti dinten wiyosipun Raden Ajeng Kartini, ingkang kedah kita pengeti inggih punika semangatipun ing babagan emansipasi wanita. Mboten namung mengeti anggenipun kartini ngagem nyamping, anggenipun Kartini mawi sanggul ageng kemawon. Ananging kados pundit Raden Ajeng Kartini majengaken para wanita negeri kita.

Raden Ajeng Kartini menika seda tanggal 17 September 1904, antawis sekawan dinten saking anggenipun kagungan putra. Dene ingkang dados jatukramanimun Raden Ajeng Kartini inggih menika Raden Adipati Jayaadiningrat.

Mbok menawi saupami Raden Ajeng Kartini taksih gesang badhe mongkog ningali kawontenan kaum wanita ing nagarinipun. Ing sawaunipun supados setarap kaliyan priya ngenani hak-hakipun, malah sapunika kathah ingkang dipun ginaaken tumuju dhumateng kawontenan ingkang mboten ngremenaken. Kadosta para wanita ingkang kathah sami ses rok, para wanita kathah ingkang mawi clana. Punika mboten ateges emansipasi! Raden Ajeng Kartini mboteng nggadhahi emansipasi ingkang kados mekaten!

Emansipasi ingkang dipun perjuangaken Raden Ajeng Kartini inggih punika ngengingi hak ingkang sami antawisiupun priya kaliyan wanita. Menawi priya dipun parengaken ngudi ilmu wonten ing pawiyatan luhur, para wanita inggih dipun parengaken ngudi ilmu wonten ing pawiyatan luhur. Mboten namung wanita dipun parengaken wonten ing wingking supados masak kemawon.

Saderengipun wonten emansipasi saking Raden Ajeng Kartini, wanita nyambut damelipun namung wonten pawon, mboten wonten kaum wanita ingkang nyambut damel wonten ing kantor-kantor kados sapunika. Awit sampun wonten paribasan, menawi kados pundi inggilingipun sekolah, wanita ing tembenipun bakal nyambut damel ing pawon.

Ibu-ibu dalah remaja putri ingkang satuhu kinurmatan.

Mbok bilih sapunika para wanita sampun sami nyambut damel kangge majengaken bangsa, nagari, tuwin agami, ananging mboten kentun menawi tansah kaum wanita ingkang sami ngula wenthah amrih raharjaning keluwarga ugi tumut majengaken generasi muda supados mbina rumah tangganipun saksae-saenipun.

Kula kinten kirang wicaksana menawi atur wacana menika kula panjang lebaraken. Pramila kula cekapi semanten kemawon. Mboten kantun kula ngaturaken agung ing panuwun dhumateng para rawuh ingkang sampun sami anyengkuyung wontenipun pengetan punika kanthi bantuan ingkang arupi menapa kemawon. Mugi sadaya wau pikantuka ingkang samurwat saking ngarsanipun Gusti Ingkang Maha Asih, Gusti Allah SWT.

Wassalamu’alaikum wr wb

Matur nuwun


Share:

Peribahasa Jawa

Peribahasa Jawa


  1. Rame Ing Gawe Sepi Ing Pamrih ‘suka menolong serta ikhlas’

Maksud dari Rame ing gawe sepi ing parih adalah banyak bekerja, tanpa menintut balas jasa, menyelamatkan kesejahteraan dunia.

Mamayu Hayuning Bawana ‘tercipta kedamaian di muka bumi’ memayu hayuning bawana adalah suatu usaha atau sutu kewajiban manusia untuk menata, memelihara, memperbaiki dunia tempat di mana mereka hidup, dengan prinsip memenimalisir terjadinya kejahatan dan menegakkan prinsip keadilan dan kejujuran.

Dengan adanya sikap tolong menolong dengan dilandasi tulus ikhlas tersebut, kemudian akan menciptakan keselarasan dalam hidup sehingga akan tercipta kedamaian di muka bumi ini.

Relevansinya pada masa sekarang, kebanyakan orang mengharapkan pamrih atau lebih mementingkan pamrih dalam setiap perbuatannya saja. Sedangkan jika sekiranya tidak ada imbalan dari apa yang dilakukannya, maka seseorang itu tidak akan mau melakukannya meskipun ia mampu untuk mengerjakannya. Sehingga karena adanya sikap yang selalu mengedepankan pamrihnya tersebut, maka sikap tenggang rasa dan rasa saling tolong menolong antara sesamanya akan hilang sama sekali.

Oleh karena dalam setiap melakukan sesuatu mengharapkan adanya imbalan, maka sifat materalistis akan sangat menonjol dan membuat tidak adanya rasa persaudaraan diantara sesama. Bahkan terkadang oleh karena adanya sikap materealisme tersebut, akhirnya akan merusak persatuan, dan persaudaraan sehingga dalam kehidupan di dunia ini banyak terjadi perselisihan.

  1. Manungsa Sadrema Nglakoni, Kadya Wayang ‘manusia hanya memainkan, ibarat wayang’

Bahwa apa yang dikerjakan oleh manusia sekeras apapun usaha yang dilakukan oleh manusia seperti apapun pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan hasilnya, karena segala sesuatunya telah diatur oleh Tuhan. Manusia diibaratkan sebagai seni wayang dan Tuhan sebagai dalang yang bertindak sebagai yang mengatur jalannya kehidupan atau memeinkan tokoh-tokoh wayang, sedangkan wayang hanya manjalankan apa yang dikehendaki dalang.

Relevansinya dimasa sekarang adalah banyak orang yang bekerja keras dalam upaya mencari keberhasilan dan kesuksesan dalam hidupnya atau karena ingin mencapai apa yang diharapkan. Bahkan dalam upaya mencapai kesuksesan dan keberhasilan tersebut, banyak yang kemudian terlalu berlebihan dalam usahanya dan lupa terhadap Tuhannya. Padahal segala sesuatunya Tuhanlah yang menentukan. Begitu pula dengan takdir manusia. Sehingga sekeras apapun manusia itu berusaha, pada akhirnya Tuhanlah yang menentukannya lewat takdir yang telah melekat pada setiap insan manusia.

  1. Ala lan becik iku dumunung ana ing awake dhewe ‘baik dan buruk itu terletak di pribadi kita sendiri’

Maksudnya yaitu bahwa baik dan buruk itu tergantung bagaimana kita mamperlakukan menurut pribadi kita. Belum tentu yang baik bagi orang lain akan baik bagi kita sendiri, dan begitu pula sebaliknya. Sebagai manusia kita dituntut agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tentunya dengn memperhatikan norma agama, masyarakat, kesusilaan,dan semisalnya. Agar hidup kita selamat dan sejahtera.

Relevansinya di masa sekarang ialah banyak orang atau kelompok golongan yang mempunyai sifat mau menang sendiri, tidak menghormati orang lain, suka menyalahkan orang lain, padahal belum tentu dirinya yang benar. Mereka suka memaksakan kehendaknya atau tidak suka jika melihat orang atau kelompok yang berbeda dengannya, bahkan yang lebih ekstrim lagi mereka tidak segan memaksakan kehendaknya dengan cara-cara kekerasan dan cara-cara lain yang tidak bertanggung jawab.

  1. Sapa sing lali marang kabecikane liyan iku kaya kewan ‘barang siapa yang lupa terhadap kebaikan orang lain itu seperti hewan’

Bahwa barang siapa yang lupa pada kebaikan orang lain itu diibaratkan seperti hewan. Yaiti manusia yang tidak mengenal rasa terima kasih kepada orang lain yang telah membantunya, maka manusia yang seperti itu dinilai tidak punya rasa tepa selira atau dalam peribahasa bahasa Indonesia yaitu air susu di balas dengan air tuba.

Relevansinya pada masa sekarang banyak orang yang tidak punya rasa terima kasih, lupa atau melupakan orang yang pernah bejasa atau menolongnya. Menganggap bahwa apa yang mereka dapatkan seperti kesuksesan pasti ada unsur bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, kita sebagai mahluk sosial harus senantiasa tolong-menolong dan tentunya jangan sampai melupakan orang yang pernah menolong kita.

  1. Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi basane lan legawane ati, darbe sipat berbudi bawa laksana ‘ciri-ciri luhur, ialah tingkah laku dan budi bahasa yang halus, keikhlasan hati dan bersedia berkorban’

Bahwa ciri-ciri orang yang berbudi luhur, ialah tingkah laku dan budi bahasa yang halus, keikhlasan hati dan bersedia berkorban tanpa mendahulukan kepentingan pribadi atau golongan.

Relevansinya di masa sekarang ada orang yang tidak memperhatikan tingkah lakunya, sopan santun, dan tidak ikhlas dalam menolong hanya mengharap pamrih. Tidak memperhatikan bahwa kita sebagai makhluk sosial yang harus selalu memperhatikan adab, sopan santun, dan suka menolong karena kita tidak hidup sendiri.

  1. Ngundhuh wohing pakarti ‘memenen buah pekerjaan’

Bahwa barang siapa menebar kebaikan ia akan menuai kebaikan pula, barang siapa melakukan kejahatan dia akan mendapat balasan kejahatan juga. Menjelaskan bahwa orang akan menuai dari buah tindakannya sendiri. Peribahasa ini ini seperti kepercayaan orang akan hukum karma.

Relevansinya pada masa sekarang peribahasa itu memeng bukan hanya sekedar omongan kosong belaka karena memang benar adanya, sebagai contoh terjadinya banjir atau tanah longsor itu karena disebabkan manusia merusak lingkingan seperti menebangi hutan.

7. Ajining dhiri saka lathi ‘kehormatan orang ada pada tutur katanya’

Peribahasa diatas memiliki arti yaitu kehomatan sesorang itu ada pada tutur katanya. Peribahasa ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus berhati-hati dalam berbicara, berbicara tanpa aturan, tidak memperhatikan adab atau sopan santun karena kepribadian orang baik atau buruk dapat dilihat dari cara berbicaranya.

Relevansinya pada masa sekaran banyak orang yang yang tidak memperhatikan omongannya, berbicra seenaknya sendiri, tidak mau tahu apa yang dibicarakan itu baik atau buruk, menyakiti hati orang yang diajak bicara. Namun peribahasa ini juga tidak sepenuhnya benar, ada saja orang yang kelihatannya baik dalam bertutur kata ternyata dia jahat.

8. Janma tan kena kinaya ngapa

Bahwa manusia itu serba terbatas, sehingga jangan pernah mengaku benar sendiri. Karena benar itu hanya pendapat sedangkan yang benar-benar itu hanya milik Tuhan yang Maha segalanya. Setiap manusia pasti punya kekurangan. Jangan pernah merasa paling benar sebaiknya kita bersikap mudah menerima kekurangan kita, mau menerima kritik dari orang lain dan jangan sombong.

Relevansinya di masa sekarang tidak sedikit orang yang suka sombong, merasa dirinyalah yang benar yang lainnya salah, tidak mau menerima saran atau kritikan.

9. Becik ketitik ala ketara ‘benar akan muncul di permukaan dan yang buruk juga akan kelihatan’

Bahwa yang baik akan muncul ke permukaan dan yang buruk akan kelihatan juga. Kebenaran pasti akan kelihatan dan begitu pula keburukan yang disembunyikan ekalipun pasti akan ketahuan.

Relevansinya di masa sekarang hal itu memang benar terjadi, seperti kasus-kasus korusi yang beritanya sering muncul di media massa. Peribahasa ini juga mengajarkan kepada kita bahwa jangan khawatir jika bertindak benar.

Share:

Geguritanku- Sing Bener

SING BENER

jare wong jaman saiki jaman edan

jare sing ora melu edan ora keduman

akeh wong keder

akeh wong keblinger

mula tumindaka sing bener

sing bener omonganmu

sing bener kelakuanmu

sing bener..

men ora melu-melu keblinger


Semarang, 18 Desember 2008

Share:

Geguritanku-Lungaa Setan!

LUNGAA SETAN!

Lungaa setan!

Jalaran kowe wong dadi edan

Jalaran kowe wong dadi ora kelingan

Ora kelingan:

Yen urip nang dunya iku mung mampir

Mung mampir ngombe

Lungaa setan!

Lunga!!!

Semarang, Januari 2009


Share:

Monday, 15 September 2008

Anoman obong

ANOMAN OBONG


Bong obong obong obong obong obong obong
Bong obong obong obong obong obong obong

Caritane wayang Ramayana
Ing Negara Ngalengka diraja
Ratu buta Rahwana raja
Gawe geger nyolong Dewi Sinta

Anoman si kethek putih
Sowan taman Sinta dijak mulih
Konangan Indrajit lan Patih
Ning Anoman ora wedi getih

E lha dalah Ngalengka diobong ( diobong 2X )
Togog mbilung wa a o padha pating domblong
Omah gedhe kabeh dadi areng ( dadi areng 2X )

Dasamuka nangis gereng-gereng
I o a e, ae, a i o a e
I o a e, ae, a i o, i o, a e



ANOMAN WAS FIRED


Fire fire fire fire fire fire fire
Fire fire fire fire fire fire fire

The story of Ramayana’s puppet
In the country of Alengka diraja
King of The Titan Rahwana
He made commotion who kidnapped princess Sinta

Anoman The White Monkey
He visited garden to invite Sinta back home
Catch out by Indrajit and The Governor
But Anoman wasn’t afraid the blood

Wow Alengka was fired ( was fired 2X )
Togog shout wa a o they were very amazed
All the big houses become charcoal ( become charcoal 2X )

Dasamuka was cried so hardly
I o a e, ae, a i o a e
I o a e, ae, a i o, i o, a e
Share:

Main Menu